Enam mahasiswa asal Yaman yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSura) terpaksa menghadapi Lebaran tahun ini dengan perasaan pilu. Mereka tidak dapat pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga akibat konflik bersenjata yang masih berkecamuk di negara mereka.
Terjebak di Perantauan
Keenam mahasiswa tersebut, yang telah tinggal di Surabaya selama beberapa tahun, mengungkapkan betapa beratnya harus melewatkan momen spesial seperti Lebaran jauh dari orang-orang tercinta. Salah satu dari mereka, Ahmed, dengan suara bergetar menceritakan bagaimana biasanya di Yaman, suasana Lebaran dipenuhi kegembiraan, silaturahmi, dan hidangan khas. Namun, tahun ini, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui panggilan video yang sering kali terputus akibat kondisi keamanan yang tidak stabil di sana.
Dampak Konflik yang Berkepanjangan
Konflik di Yaman, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, tidak hanya menghancurkan infrastruktur tetapi juga memutus akses transportasi dan keamanan bagi warga yang ingin bepergian. Para mahasiswa ini mengaku khawatir dengan keselamatan keluarga mereka yang masih berada di zona konflik. Meskipun memiliki keinginan kuat untuk mudik, risiko perjalanan melalui wilayah berbahaya membuat kepulangan menjadi mustahil.
Dukungan dari Kampus dan Komunitas
Universitas Muhammadiyah Surabaya telah berupaya memberikan dukungan psikologis dan sosial kepada para mahasiswa asal Yaman ini. Beberapa kegiatan keagamaan dan silaturahmi khusus diadakan di kampus untuk membantu mereka merasakan nuansa Lebaran meski jauh dari rumah. Selain itu, komunitas mahasiswa internasional di Surabaya juga turut serta mengadakan acara buka puasa bersama dan pertemuan untuk meringankan beban rasa rindu.
Harapan di Tengah Keprihatinan
Di balik kesedihan, keenam mahasiswa ini tetap bersemangat melanjutkan studi mereka dengan harapan dapat menyelesaikan pendidikan dan suatu hari nanti kembali ke Yaman untuk membangun negara yang lebih baik. Mereka berharap konflik dapat segera berakhir agar keluarga dan seluruh rakyat Yaman dapat hidup dalam kedamaian, serta mereka bisa mudik Lebaran di tahun-tahun mendatang.
Kisah ini mengingatkan kita akan betapa berharganya perdamaian dan stabilitas suatu negara, yang sering kali dianggap remeh oleh mereka yang hidup di wilayah aman. Bagi para perantau seperti mereka, mudik Lebaran bukan sekadar tradisi, tetapi juga simbol reuni dan kebahagiaan yang kini harus tertunda akibat gejolak politik dan militer.
