Wakil Ketua MPR Soroti Pentingnya Peran Orang Tua dan Lingkungan dalam Literasi Anak
Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menilai bahwa upaya peningkatan keterampilan pendamping, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat, sangat krusial untuk menanamkan kemampuan literasi pada generasi muda. Dalam keterangannya pada Sabtu, 4 April 2026, Rerie menyatakan bahwa peningkatan literasi anak bangsa tidak bisa hanya bergantung pada sekolah.
Darurat Pemahaman Bacaan di Indonesia
Menurut Rerie, data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan: sekitar 75% anak usia 15 tahun di Indonesia sudah bisa membaca, tetapi tidak memahami isi bacaannya. Hanya separuh dari siswa yang bisa membaca memiliki kemampuan literasi yang baik. "Ini bukan soal bisa baca atau tidak, tapi soal paham atau tidak. Ini darurat pemahaman bacaan," tegas Rerie, yang juga merupakan anggota Komisi X DPR RI.
Langkah-Langkah Konkret yang Diperlukan
Rerie mendorong agar sejumlah langkah segera direalisasikan untuk mengatasi masalah ini. Pertama, orang tua harus aktif mendampingi anak saat menggunakan gawai, bukan sekadar melarang atau memberikan gadget tanpa kontrol. Pendampingan ini, menurutnya, harus dilakukan secara konsisten untuk membiasakan membaca sejak dini.
Kedua, pemerintah didorong untuk menghapus pajak buku dan pajak kertas agar harga buku menjadi lebih terjangkau. Hal ini diharapkan dapat memudahkan akses masyarakat terhadap bahan bacaan, sehingga mendukung upaya peningkatan literasi.
Gerakan Nasional untuk Masa Depan Bangsa
Rerie menegaskan bahwa upaya peningkatan literasi anak bangsa harus menjadi gerakan nasional, bukan hanya tugas guru di sekolah. Sebagai legislator dari Dapil II Jawa Tengah dan anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, ia berpendapat bahwa jika generasi muda tidak dibekali kemampuan berpikir kritis sejak dini, daya saing bangsa akan terancam.
"Kedaulatan bangsa di masa depan sangat tergantung pada kemampuan anak-anak kita dalam memahami dan menyaring informasi," pungkas Rerie. Dengan demikian, peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi penentu utama dalam membentuk generasi penerus yang literat dan kompetitif.



