Jakarta - Aktivitas membaca di kalangan Generasi Z (Gen Z) menunjukkan tren positif yang patut disambut baik. Berdasarkan riset lembaga survei Jakpat pada semester kedua 2025, persentase aktivitas membaca Gen Z yang berusia 14-29 tahun tercatat mencapai 26%.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan generasi Milenial (30-45 tahun) yang sebesar 20% dan Gen X (46-61 tahun) yang hanya 18%. Data ini mengindikasikan pergeseran minat di kalangan anak muda Indonesia.
Momentum Berharga untuk Literasi Nasional
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini tidak boleh disia-siakan. Menurutnya, momentum berharga tersebut harus dimanfaatkan para pemangku kepentingan untuk mendongkrak literasi masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.
"Peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan berbagai langkah strategis agar berkelanjutan dan pada akhirnya mampu meningkatkan literasi masyarakat Indonesia," ujar Lestari dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Minat Baca Belum Tentu Sama dengan Tingkat Literasi
Lebih lanjut, Lestari mengungkapkan bahwa para pemuda kini mulai mencari alternatif kegiatan yang lebih berkualitas untuk mengisi waktu luang. Namun, ia mengingatkan bahwa minat baca yang tinggi belum otomatis berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakat.
Agar kebiasaan membaca memberi dampak yang lebih luas, Lestari menilai perlu ada langkah-langkah strategis yang dilakukan secara konsisten. Salah satunya dengan menggerakkan komunitas baca, baik berbasis digital maupun fisik, sehingga dapat mendorong tumbuhnya diskusi dan resensi buku secara organik di tengah masyarakat.
Peran Institusi Pendidikan dan Akses Bahan Bacaan
Selain itu, sekolah dan perguruan tinggi juga perlu mendorong pola pembelajaran yang membuat siswa tidak hanya membaca, tetapi juga mampu mengolah, mengkritisi, dan menyajikan kembali informasi yang diperoleh. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan literasi kritis.
Di sisi lain, ketersediaan bahan bacaan yang mudah diakses—baik melalui koleksi fisik maupun digital—serta harga buku yang terjangkau juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Lestari berharap segera ada kebijakan yang dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan, misalnya melalui penghapusan pajak buku dan keringanan harga kertas.
Membangun Ekosistem Literasi yang Kuat
"Dengan sejumlah langkah tersebut, momentum 26% Gen Z yang aktif membaca tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi fondasi bagi terciptanya ekosistem literasi nasional yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan," pungkas Lestari.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas, diharapkan dapat mengubah minat baca yang tinggi ini menjadi peningkatan literasi yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.



