Dua siswa program Sekolah Garuda di Jakarta Timur berhasil meraih beasiswa penuh untuk melanjutkan studi strata satu (S1) ke Wageningen University, Belanda. Mereka adalah Muhammad Rafa Alfalah Dermawan dan Amelia Febriani Rachman, yang keduanya mengambil program studi Environmental Science di universitas tersebut. Keduanya merupakan siswa SMAN Unggulan MH Thamrin, sekolah yang bertransformasi menjadi bagian dari program Sekolah Garuda yang digagas pemerintah.
Culture Shock dan Adaptasi di Sekolah Garuda
Rafa mengaku sempat mengalami culture shock saat pertama kali mengikuti program Sekolah Garuda yang menerapkan sistem asrama. "Karena kita sekolah asrama, mungkin ada culture shock, harus tinggal sendiri, apa-apa mandiri. Biasanya di rumah diurus orang tua. Tiga bulan pertama itu culture shock-nya, karena jadwal padat. Senin sampai Sabtu belajar, sorenya organisasi, bahkan Selasa dan Kamis malam belajar setelah salat isya sampai jam 09.30 malam," kata Rafa saat ditemui di SMAN Unggulan MH Thamrin, Senin (22/6/2026).
Hal senada diungkapkan Amelia yang juga mengalami culture shock saat masuk kelas 10. "Awalnya agak culture shock karena di sini semua orang pintar, jenius banget. Jadi harus beradaptasi dengan pace belajar dan teman-teman. Untungnya lingkungan sangat suportif. Meski teman saya pintar, mereka masih mau mengajari saya, jadi belajar bareng-bareng," ujar Amelia.
Tanpa Senioritas, Alumni Membimbing
Rafa menekankan bahwa di sekolah tersebut hampir tidak ada senioritas. "Kita bisa main sama kakak kelas kelas 12 atau 11, jadi pas kelas 10 tidak merasa sendiri. Bahkan alumni juga membimbing. Saya punya alumni MH Thamrin 5 yang benar-benar membimbing saya sampai titik ini," katanya.
Perjuangan Mendapatkan Beasiswa Garuda
Amelia menceritakan bahwa orang tuanya awalnya tidak setuju dengan rencananya kuliah ke luar negeri. "Setiap saya apply universitas, saya jelaskan ke orang tua kenapa saya mau di sini. Saya berusaha meyakinkan. Pas pengumuman Beasiswa Garuda, orang tua saya sudah mengerti dan ikut senang, sudah percaya," katanya.
Sementara itu, Rafa mengaku khawatir dengan biaya kuliah yang tinggi. "Orang tua saya wanti-wanti karena desil saya masih tinggi, jadi UKT kemungkinan tetap tinggi. Orang tua tidak kuat. Alhamdulillah dengan Beasiswa Garuda, tidak keluar biaya apa-apa. Bisa meringankan beban orang tua, padahal UKT bisa puluhan juta rupiah. Sekarang saya bisa lebih mandiri dan membanggakan nama sekolah," ujarnya.
Komitmen Membawa Ilmu untuk Indonesia
Rafa bercita-cita menjadi Menteri Lingkungan Hidup di masa depan. "Pengin kontribusi ke Indonesia juga. Keinginan terbesar saya jadi Menteri Lingkungan," katanya. Amelia juga berkomitmen untuk kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang lingkungan. "Tentunya ingin kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang lingkungan. Saat ini masih eksplorasi, karena di universitas ada tiga peminatan yang bisa dipilih, mungkin ke teknologi atau kebijakan," imbuhnya.



