Kematian Bos Kartel El Mencho Picu Kerusuhan dan Kekerasan di Meksiko
Gelombang kekerasan melanda sejumlah wilayah Meksiko setelah gembong kartel narkoba Nemesio Ruben Oseguera Cervantes, yang dikenal sebagai "El Mencho", tewas dalam operasi militer yang intensif. Sedikitnya 74 orang dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian operasi tersebut, termasuk 25 personel aparat keamanan yang gugur dalam tugas.
Operasi Intelijen Bertahun-tahun Berujung pada Penangkapan
Menteri Keamanan Meksiko, Omar Garcia Harfuch, pada Senin (23/02) menyatakan bahwa korban tewas terdiri dari anggota pasukan keamanan, terduga anggota kartel, serta sejumlah pihak lainnya yang terlibat dalam konflik. Operasi ini merupakan hasil pengumpulan intelijen selama bertahun-tahun oleh Meksiko dan Amerika Serikat (AS), yang akhirnya mengidentifikasi lokasi persembunyian El Mencho.
Menteri Pertahanan Meksiko Ricardo Trevilla mengungkapkan bahwa aparat berhasil melacak keberadaan Oseguera setelah mengidentifikasi seorang rekan dekat dari kekasihnya. Perempuan tersebut diantar ke Tapalpa, Jalisco, pada Jumat (20/2) untuk bertemu dengan sang bos kartel. Informasi tambahan dari intelijen AS membantu memastikan lokasi pertemuan itu, sehingga pasukan Angkatan Darat dan Garda Nasional Meksiko langsung mengepung area tersebut keesokan harinya.
Kerusuhan Meluas Setelah Kabar Kematian Tersebar
Tak lama setelah kabar kematian pemimpin Kartel Jalisco Nueva Generación (CJNG) itu tersebar, kelompok bersenjata diduga anggota kartel mengamuk di berbagai wilayah. Mereka membakar kendaraan di sejumlah negara bagian dan memblokir banyak ruas jalan utama. Bank, SPBU, dan toko-toko turut menjadi sasaran serangan, sementara warga berupaya menyelamatkan diri dengan berlindung di tempat aman.
Media lokal melaporkan sekitar 20 dari 32 negara bagian di Meksiko terdampak kekerasan, termasuk Jalisco, Michoacan, Aguascalientes, Tamaulipas, dan Guanajuato. Dalam upaya melarikan diri, Oseguera bersama pengawalnya bersembunyi di kawasan hutan di sekitar kompleks kabin. Ia terluka dalam baku tembak dan akhirnya meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sosok di Balik Kartel Paling Brutal
Oseguera memimpin CJNG, organisasi yang oleh Departemen Kehakiman AS disebut sebagai salah satu kartel narkoba paling brutal di Meksiko. Didirikan pada 2009, kartel ini menjadi pemasok utama kokain ke Amerika Serikat serta memproduksi fentanyl dan metamfetamin. Pemerintah AS bahkan menawarkan hadiah sebesar 15 juta dolar AS (sekitar Rp252 miliar) bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Oseguera pernah dihukum oleh pengadilan di California AS pada 1994 atas konspirasi distribusi heroin dan menjalani hukuman hampir tiga tahun penjara. Setelah bebas, ia kembali ke Meksiko dan melanjutkan aktivitasnya di dunia kartel. Ia juga beberapa kali didakwa di pengadilan AS, termasuk pada 2022 atas tuduhan konspirasi distribusi narkotika dan penggunaan senjata api dalam kejahatan perdagangan narkoba.
Pemerintah Imbau Warga Tetap Tenang Meski Ketegangan Berlanjut
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyatakan aparat telah membersihkan lebih dari 250 blokade jalan yang dipasang kartel di sekitar 20 negara bagian. "Hari ini situasi sudah lebih tenang. Ada pemerintah, ada angkatan bersenjata, ada kabinet keamanan, dan koordinasi yang kuat," ujarnya dalam konferensi pers. Ia memastikan stabilitas dan keamanan negara tetap terjaga.
Namun, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan imbauan kepada warga negaranya di Meksiko untuk berlindung di tempat masing-masing menyusul kerusuhan. Imbauan tersebut diperluas pada Senin untuk mencakup lebih banyak wilayah, dan staf pemerintah AS diminta bekerja dari rumah. Presiden AS Donald Trump mendesak Meksiko untuk "meningkatkan" upaya melawan kartel narkoba, sementara Presiden Sheinbaum menolak ancaman aksi militer sepihak dari AS.
Dampak Kerusuhan pada Warga Sipil
Sehari setelah operasi mematikan itu, suasana di Tapalpa, kota tempat baku tembak terjadi, sangat kontras. Anak-anak kembali bermain seperti biasa, tapi suara tembakan masih terdengar. Di pinggiran kota ditemukan seorang pria tewas di samping kendaraan yang penuh lubang bekas peluru. Pasukan keamanan bersenjata lengkap terus memburu anggota kartel yang masih bertahan, dan blokade jalan dilaporkan masih terjadi di sejumlah titik di negara bagian Jalisco.
Di Guadalajara, ibu kota negara bagian tersebut, aktivitas mulai kembali berjalan setelah pada hari Minggu (22/02) kota itu nyaris lumpuh total karena warga memilih bertahan di rumah. Lebih dari 1.000 orang sempat terjebak semalaman di kebun binatang Guadalajara dan terpaksa tidur di dalam bus demi keselamatan. Banyak keluarga tidak dapat pulang ke negara bagian asal seperti Zacatecas dan Michoacan akibat situasi keamanan yang tidak menentu.
"Semuanya kami izinkan tetap berada di dalam kebun binatang demi keselamatan mereka, dari anak-anak hingga lansia," kata Direktur Kebun Binatang Guadalajara, Luis Soto Rendón. Seorang petugas keamanan hotel di Guadalajara, Irma Hernández (43), mengaku kesulitan berangkat kerja karena transportasi umum berhenti beroperasi. Ia dijemput kendaraan khusus yang disediakan kantornya, sementara keluarganya memilih tetap di rumah karena khawatir dengan situasi yang belum stabil.
Meski aparat menyatakan situasi mulai terkendali, banyak warga Meksiko kini diliputi kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi kekerasan berikutnya setelah tumbangnya salah satu tokoh kriminal paling berpengaruh di negara tersebut. Operasi ini menandai babak baru dalam perang melawan kartel narkoba, namun konsekuensi sosial dan keamanan masih terus dirasakan oleh masyarakat luas.



