Empat Pasukan Keamanan Suriah Tewas dalam Serangan ISIS di Raqa
Empat personel keamanan Suriah tewas dalam serangan kelompok Negara Islam (ISIS) di Kota Raqa, wilayah utara Suriah. Insiden ini terjadi di area yang baru-baru ini direbut oleh pemerintah Damaskus dari pasukan Kurdi, menandai eskalasi kekerasan di wilayah tersebut.
Serangan Beruntun dalam Dua Hari
Kementerian Dalam Negeri Suriah mengonfirmasi bahwa serangan ini merupakan yang kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut yang menargetkan pasukan keamanan. Serangan terjadi setelah ISIS secara terbuka menyerukan para pejuangnya untuk menghadapi otoritas Suriah, menunjukkan peningkatan aktivitas militan di kawasan itu.
Menurut kantor berita resmi SANA, yang mengutip sumber keamanan, "empat anggota pasukan keamanan internal" kehilangan nyawa dalam insiden yang dikaitkan dengan ISIS. Kementerian menggambarkan kejadian ini sebagai "serangan teroris" yang menargetkan sebuah pos pemeriksaan pada hari Senin, 23 Februari 2026.
Detail Insiden dan Korban
Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri Suriah menyebutkan bahwa salah satu penyerang tewas selama serangan tersebut. Meskipun kementerian tidak merinci korban jiwa dalam insiden sebelumnya yang terjadi pada hari Minggu, mereka mengonfirmasi bahwa satu penyerang juga tewas dalam kejadian itu.
Serangan ini terjadi di tengah konteks geopolitik yang kompleks. Bulan lalu, pemerintah Suriah berhasil merebut kota Raqa dari pasukan Kurdi, yang sebelumnya, dengan dukungan Amerika Serikat, memimpin pertempuran melawan ISIS hingga kekalahan teritorial kelompok tersebut di Suriah pada tahun 2019.
Latar Belakang dan Signifikansi Raqa
Raqa memiliki sejarah penting dalam konflik Suriah, karena pernah digunakan oleh ISIS sebagai ibu kota de facto mereka selama puncak kekuasaan kelompok itu. Meskipun telah kehilangan kendali teritorial, ISIS masih diyakini memiliki sel-sel tidur yang tersebar di wilayah gurun Suriah yang luas, yang dapat memicu serangan sporadis seperti ini.
Sejak menggulingkan penguasa lama Bashar al-Assad pada Desember 2024, pemerintah baru Suriah—yang memiliki hubungan historis dengan kelompok jihadis Al-Qaeda—telah berupaya untuk melepaskan diri dari masa lalu radikal mereka dan menampilkan citra yang lebih moderat. Upaya ini termasuk bergabung dengan koalisi pimpinan AS melawan ISIS tahun lalu dan mengoordinasikan serangan terhadap sisa-sisa kelompok tersebut di dalam negeri.
Namun, serangan terbaru ini menggarisbawahi tantangan berkelanjutan yang dihadapi oleh otoritas Suriah dalam menstabilkan wilayah yang baru direbut dan memberantas ancaman militan yang tersisa. Eskalasi kekerasan ini juga terjadi dalam konteks yang lebih luas di Timur Tengah, di mana Irak telah mengklaim kemenangan atas ISIS dua tahun sebelumnya, tetapi ancaman dari sel-sel tidur tetap menjadi perhatian keamanan regional.