Napi AS Dieksekusi Suntik Mati Setelah 35 Tahun Penjara karena Bunuh Tetangga
Seorang pria dari Florida, Amerika Serikat, yang telah menghabiskan 35 tahun di penjara setelah divonis mati karena pembunuhan tetangganya, akhirnya dieksekusi mati. Chadwick Willacy (58) disuntik mati pada hari Selasa (21/4) waktu setempat di penjara negara bagian di Raiford, Florida.
Dilansir dari kantor berita AFP, Departemen Pemasyarakatan Florida menyatakan bahwa Willacy dinyatakan meninggal pada pukul 18.15 waktu setempat (2215 GMT). Eksekusi ini menandai akhir dari perjalanan hukum yang panjang bagi Willacy, yang dijatuhi hukuman mati pada tahun 1991.
Latar Belakang Kasus Pembunuhan
Willacy dihukum karena pembunuhan terhadap tetangganya, Marlys Sather (56), yang terjadi pada tahun 1990 selama perampokan di rumah korban. Kasus ini telah menjadi sorotan dalam sistem peradilan Florida selama beberapa dekade, dengan berbagai banding dan penundaan sebelum eksekusi akhirnya dilaksanakan.
Pembunuhan tersebut dilakukan dalam konteks perampokan yang brutal, yang menyebabkan Sather kehilangan nyawanya. Vonis mati yang dijatuhkan pada Willacy mencerminkan beratnya kejahatan yang dilakukan, meskipun proses hukumnya memakan waktu puluhan tahun.
Tren Eksekusi Mati di Amerika Serikat
Eksekusi Willacy merupakan bagian dari pola yang lebih luas di Amerika Serikat. Sejauh ini, delapan eksekusi mati telah dilakukan di AS pada tahun ini, dengan rincian:
- Lima eksekusi di Florida
- Dua eksekusi di Texas
- Satu eksekusi di Oklahoma
Pada tahun lalu, tercatat 47 eksekusi mati di AS, yang merupakan jumlah tertinggi sejak tahun 2009 ketika 52 orang dieksekusi. Florida menjadi negara bagian dengan eksekusi terbanyak pada tahun 2025, dengan 19 eksekusi, diikuti oleh Alabama, South Carolina, dan Texas yang masing-masing melakukan lima eksekusi.
Metode Eksekusi yang Digunakan
Sebagian besar eksekusi mati di AS dilakukan dengan suntikan mematikan, termasuk dalam kasus Willacy. Dari 47 eksekusi tahun lalu, 39 di antaranya menggunakan metode ini. Namun, ada variasi metode lain yang juga diterapkan:
- Tiga eksekusi dilakukan dengan regu tembak
- Lima eksekusi menggunakan hipoksia nitrogen, yang melibatkan pemompaan gas nitrogen ke dalam masker wajah hingga menyebabkan narapidana mati lemas
Penggunaan gas nitrogen sebagai metode hukuman mati telah menuai kritik keras dari para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang mengecamnya sebagai praktik yang kejam dan tidak manusiawi. Kontroversi ini menyoroti perdebatan global tentang etika hukuman mati.
Status Hukuman Mati di Berbagai Negara Bagian AS
Hukuman mati telah dihapuskan di 23 dari 50 negara bagian AS, mencerminkan pergeseran pandangan masyarakat terhadap praktik ini. Sementara itu, tiga negara bagian lainnya—California, Oregon, dan Pennsylvania—memiliki moratorium yang berlaku, yang menunda pelaksanaan eksekusi meskipun hukumannya masih ada dalam buku undang-undang.
Presiden Donald Trump, yang dikenal sebagai pendukung hukuman mati, telah menyerukan perluasan penggunaannya untuk kejahatan yang dianggap paling keji. Pernyataan ini memicu diskusi lebih lanjut tentang masa depan hukuman mati dalam kebijakan kriminal AS.
Eksekusi Chadwick Willacy menggarisbawahi kompleksitas dan kontroversi seputar hukuman mati di Amerika Serikat, dengan implikasi hukum, sosial, dan etika yang terus diperdebatkan.



