Sopir Ambulans Dikerjai Debt Collector, Dipesan ke Thamrin Malah Ditagih Utang
Sopir Ambulans Dikerjai Debt Collector di Thamrin

Sopir Ambulans Dikerjai Debt Collector, Dipesan ke Thamrin Malah Ditagih Utang

Sebagai sopir ambulans, Yoga Dwi Saputra harus selalu siaga. Setiap panggilan menandakan kehadirannya sangat dibutuhkan, sehingga dia harus secepat mungkin tiba di lokasi. Namun, pada Selasa, 14 April 2026, panggilan yang diterimanya justru berujung pada penipuan yang merugikan.

Modus Penipuan yang Menjebak

Pukul 15.30 WIB, ponsel Yoga berbunyi dengan pesan dari seseorang berinisial D. Saat itu, Yoga berada di kantornya di Kebon Jeruk. Dia membalas dengan mengirim formulir pemesanan ambulans via WhatsApp. Dalam formulir itu, D meminta ambulans didatangkan ke kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, yang ternyata adalah gedung perkantoran.

Setibanya di lokasi, Yoga mencoba menghubungi kembali nomor pemesan. Belakangan diketahui, itu adalah ulah debt collector atau penagih utang dari perusahaan pinjaman online (pinjol). “Pas saya sampai di sana, enggak tahunya ini jebakan utang,” kata Yoga saat dihubungi pada Rabu, 15 April 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Telepon dari Penagih Utang

Yoga menjelaskan bahwa setelah tiba, dia dihubungi melalui telepon oleh seseorang dengan nomor yang sama dengan pemesan ambulans. Penelepon itu memperkenalkan diri sebagai penagih utang dan memintanya untuk menghubungkan dengan seseorang bernama Budi agar melunasi utangnya. “Dihubungi sama debt collector yang nomornya sama dengan yang mesen ambulans. Minta si Budi lunasin utang,” ujarnya.

Tidak ada penjelasan rinci tentang jumlah utang, tetapi seorang karyawan di lokasi mengabari bahwa orang yang dicari sedang tidak masuk kantor. “Dia bilang sedang tidak masuk. Nah dia bilang utangnya cuma sedikit,” tambah Yoga. Dia berencana melaporkan kejadian ini ke polisi dan telah memberikan nomor penagih utang tersebut kepada anggota kepolisian yang dikenalinya.

Bukan Pengalaman Pertama

Yoga menyebutkan bahwa ini bukan pertama kalinya dia mengalami insiden serupa. “Kalau saya sudah dua kali. Yang pertama di Tanjung Pasir. Jemput pasien kontrol, pas sampai sana enggak tahunya enggak ada. Sama juga, jebakan,” katanya. Menurutnya, praktik semacam ini sangat merugikan, baik secara materiil maupun tenaga.

Dia juga menambahkan bahwa orang lain, seperti pengemudi ojek online, pernah menjadi korban serupa. “Ini sudah bukan sekali dua kali. Kasihan juga kayak ojol yang kena. Karena merugikan materiil juga, tenaga juga. Kasihan yang lagi kerja,” ungkap Yoga dengan nada prihatin.

Dampak dan Implikasi

Kejadian ini menyoroti risiko yang dihadapi oleh pekerja layanan darurat seperti sopir ambulans. Modus penipuan oleh debt collector tidak hanya membuang waktu dan sumber daya, tetapi juga dapat mengganggu layanan kesehatan yang kritis. Yoga berharap laporannya ke polisi dapat membantu menghentikan praktik semacam ini di masa depan.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kasus utang pinjol di Indonesia, yang mencapai lebih dari Rp 100 triliun pada Februari 2026, menurut data terbaru. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap panggilan atau pesan mencurigakan yang memanfaatkan layanan darurat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga