Debt Collector Prank Ambulans di Jakarta, Tenaga Medis Diledek dan Dirugikan
Debt Collector Prank Ambulans, Tenaga Medis Dirugikan

Debt Collector Berulah dengan Prank Ambulans di Jakarta Barat, Kru Medis Kesal dan Dirugikan

Sebuah insiden memalukan terjadi di Jakarta Barat ketika debt collector melakukan aksi prank atau laporan palsu terhadap kru ambulans. Aksi penipuan ini menjadi viral di media sosial setelah video rekaman beredar, menunjukkan bagaimana tenaga medis diperdaya dengan permintaan jasa yang tidak nyata.

Kronologi Prank yang Merugikan Tenaga Medis

Dalam video yang dilihat pada Rabu (15/4/2026), terlihat sopir ambulans sedang berkomunikasi dengan penelepon yang meminta ambulans didatangkan. Namun, saat tiba di lokasi, tidak ada pasien yang perlu dijemput. Sopir ambulans tersebut, yang kemudian diidentifikasi sebagai Yoga Dwi Saputra, mengungkapkan kekesalannya.

"Bapak berarti melecehkan tenaga medis, pak," kata Yoga dengan nada kesal. Dia menjelaskan bahwa mereka telah mengeluarkan bensin, tenaga, dan waktu untuk datang ke lokasi, namun respons pelaku justru santai dan penuh ledekan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penelepon, yang mengaku bernama Dobi, bahkan menertawakan situasi tersebut dengan mengatakan, "Nanti saya tf (transfer), saya tf. Ada DANA? Ah nggak ada he...he...he." Aksi ini tidak hanya menghabiskan sumber daya tetapi juga merendahkan profesi medis.

Motif Prank Ternyata untuk Menagih Utang

Yoga menceritakan bahwa awalnya dia menerima permintaan penjemputan melalui pesan WhatsApp pada Selasa (14/4). Penelepon memintanya menjemput 'pasien' di sebuah perkantoran di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Namun, saat tiba, pihak kantor menyatakan orang tersebut tidak masuk.

Ketika Yoga menghubungi kembali penelepon, dia justru diminta memberikan handphonenya kepada pihak yang diduga memiliki utang. "Minta dihubungkan ke orang yang di kantor itu. Suruh bayar utang, si Rudi siapa tuh ya namanya, ya udah begitu," imbuh Yoga. Ternyata, orderan tersebut adalah fiktif dan digunakan sebagai alat untuk menagih utang oleh debt collector.

Dampak dan Rencana Tindakan Hukum

Yoga mengaku sempat meminta ganti rugi untuk bensin yang digunakan, namun pemesan hanya meledeknya tanpa memberikan kompensasi. "Iya (sempat minta ganti rugi), dia ngeledek doang itu, nggak ada (ganti rugi yang diberikan)," jelasnya. Insiden ini bukan yang pertama kali dialami Yoga; sebelumnya, dia juga mengalami hal serupa di Tanjung Pasir.

Dia berniat melaporkan peristiwa ini ke kepolisian karena merugikan secara material. "Ya rencana sih, saya sih mau lapor sih, mau lapor kalo ada yang mau iniin. Ya karena merugikan material juga ya. Dua kali, saya dua, dua kali," pungkas Yoga. Aksi prank semacam ini tidak hanya membuang waktu dan sumber daya tetapi juga mengganggu layanan kesehatan yang seharusnya untuk keadaan darurat.

Insiden ini menyoroti pentingnya etika dalam menggunakan layanan publik dan bahaya prank yang dapat merugikan pihak lain, terutama tenaga medis yang bertugas menyelamatkan nyawa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga