Jalur flyover Tanjung Barat, Jakarta Selatan, pada malam Ramadan 2025 menjadi titik balik hidup Tio (33). Sebuah mobil MPV menyalip tajam dari sisi kanan sepeda motor Tio, menghantamnya hingga pembuluh darah di otaknya pecah. Tio koma selama tiga hari di ruang ICU.
Dokter memperingatkan Maria (63), sang ibu, bahwa jika pun selamat, Tio tidak akan pernah kembali ke kondisi semula. Sahabat karibnya, Angga (33), yakin akan kehilangan Tio selamanya. Namun, takdir berkata lain. Kecelakaan itu justru menjadi 'factory reset' atas hidup kelam Tio.
Awal Mula Kecanduan
Tio adalah anak tunggal yang dibesarkan oleh ibu tunggal setelah ayahnya pergi saat ia berusia tiga tahun. Selepas SMA, ia merantau ke Bandung untuk kuliah hukum. Rasa kesepian mendorongnya mencoba ganja, yang kemudian menjadi kebiasaan.
Ia hanya bertahan setahun di Bandung karena kuliahnya berantakan. Ibunya memindahkannya ke Jakarta untuk mengambil jurusan musik di kampus swasta elite di Tangerang. Di sana, ia beralih ke psikotropika Golongan IV seperti Dumolid dan Calmlet, lalu sabu. Intensitas konsumsi meningkat dari dua menjadi enam tablet sehari, menghancurkan IPK-nya hingga 0,0 selama empat semester berturut-turut.
Kecelakaan dan Koma
Pada 2013, Tio kecelakaan menggunakan Vespa pinjaman dan dinyatakan positif narkoba. Meski diberi kesempatan kedua oleh kampus, perilakunya semakin emosional. Ia bahkan mengancam ibunya sendiri. Maria, yang saat itu baru menjalani operasi kanker payudara, berjuang sendirian.
Tio pindah ke kampus ketiga pada 2014, jurusan perfilman, namun kecanduannya semakin parah. Ia mengurung diri di kamar kos dan menghabiskan Rp700 ribu dari Rp1 juta uang jajan mingguannya untuk sabu. Pada 2018, ia dimasukkan ke panti rehabilitasi di Puncak, Cianjur, tetapi kabur setelah sembilan bulan.
Statistik Narkoba di Indonesia
Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat angka penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai 4,9 juta orang, didominasi generasi muda usia 15-24 tahun. Laporan BNN Provinsi DKI Jakarta mencatat lonjakan jumlah pengguna yang direhabilitasi pada 2025 menjadi 8.865 orang, naik 24,21 persen dari tahun sebelumnya (6.718 orang).
Kementerian Kesehatan menyatakan zat seperti sabu dan psikotropika merusak sistem saraf pusat, memicu euforia instan, namun efek jangka panjangnya merusak struktur kognitif dan regulasi emosi, bahkan menyebabkan psikosis.
Terlahir Kembali
Setelah kecelakaan di flyover Tanjung Barat, Tio melewati masa koma kritis. Saat Angga menjenguk, Tio tidak bisa mengingatnya, namun air matanya tumpah. Hantaman di kepala telah menghapus seluruh trauma dan perangai buruknya. Tio kini menjadi pribadi yang santun, bahkan meminta ibunya mengetuk pintu sebelum masuk kamar.
Bibir, gusi, dan giginya masih tampak rusak akibat zat kimia, namun masa lalunya terkunci rapat. "Sehancur-hancur saya, saya enggak akan mau balik lagi ke sana. Karena dia enggak kenal dirinya siapa," tutup Maria.



