Andre The Doctor Akui Punya Dua Atasan dalam Jaringan Narkoba, Polisi Beberkan Transaksi
Andre The Doctor Akui Punya Dua Atasan dalam Jaringan Narkoba

Andre The Doctor Akui Punya Dua Atasan dalam Jaringan Narkoba, Polisi Beberkan Transaksi

Andre Fernando alias The Doctor berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian pada Sabtu, 5 April 2026, di sebuah apartemen di kawasan Penang, Malaysia. Penangkapan ini dilakukan atas dugaan keterlibatannya dalam jaringan peredaran narkoba yang dikaitkan dengan Erwin Iskandar alias Koko Erwin dan tempat hiburan malam White Rabbit. Sehari setelah penangkapan, The Doctor langsung dibawa ke Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan lebih mendalam. Nama Koko Erwin sendiri sebelumnya telah disebut-sebut dalam kasus narkoba yang melibatkan dua pejabat Polres Bima Kota, yaitu AKP Malaungi dan AKBP Didik.

Pengakuan Dua Atasan dalam Bisnis Narkoba

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi, Andre Fernando alias The Doctor mengaku bahwa ia masih memiliki dua orang atasan dalam lingkaran bisnis narkoba yang dijalankannya. "Andre Fernando alias The Doctor diketahui memiliki dua orang atasan, yaitu Hendra yang merupakan warga negara Indonesia asal Aceh dan berdomisili di Malaysia, serta Tomy yang merupakan warga negara Malaysia. Kedua atasan tersebut diketahui tidak saling mengenal satu sama lain," jelas Eko dalam keterangannya yang dikutip pada Rabu, 8 April 2026.

Menurut Eko, peran The Doctor dalam jaringan ini adalah sebagai perantara dan penjamin antara kedua atasan tersebut dengan para pelanggan. Ia pertama kali mengenal Hendra setelah dikenalkan oleh Hendro alias Nemo. Sementara itu, perkenalannya dengan Tomy terjadi saat The Doctor sedang bermain judi di Genting Highland, Genting, Malaysia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Detail Transaksi Narkoba yang Terungkap

Polisi berhasil mengungkap rincian transaksi narkoba yang dilakukan oleh The Doctor. Dari Hendra, ia mengambil sabu sebanyak 5 kilogram dengan harga per kilogram mencapai Rp 380.000.000. Barang haram ini kemudian dijual kepada Arfan Yulius Law dengan harga Rp 390.000.000 per kilogram. Selain sabu, The Doctor juga mengambil narkoba jenis etomidate ukuran kecil sebanyak 500 buah, yang dijual kepada Ika Novita Sari alias Mami Mika dengan harga Rp 1.600.000 per buah.

"Happy Five sejumlah 50 bungkus pada bulan Desember 2025 dengan harga Rp 1.800.000 per pcs dan dijual kepada Ika Novita Sari alias Mami Mika seharga Rp 2.000.000 per pcs," ungkap Eko lebih lanjut. Sementara itu, dari Tomy, The Doctor mengambil etomidate berbagai ukuran. Untuk ukuran kecil sebanyak 250 buah yang didapat pada Desember 2025, harganya Rp 1.700.000 per buah dan dijual ke Ika Novita Sari alias Mami Mika seharga Rp 1.800.000 per buah, dengan transaksi dibayar di Whiterabbit PIK.

Pada Januari 2026, The Doctor mendapatkan etomidate ukuran kecil sebanyak 397 buah dengan harga Rp 1.700.000 per buah, yang kemudian dijual dengan harga Rp 1.800.000 per buah ke Ika Novita Sari alias Mami Mika. "Etomidate ukuran besar sejumlah 700 pcs pada bulan Februari 2026 seharga Rp 1.700.000 per pcs dan dijual kepada Ika Novita Sari alias Mami Mika seharga Rp 2.200.000 per pcs, serta uang untuk transaksi dibayar di luar Whiterabbit PIK," tambah Eko.

Penangkapan di Malaysia Bersama Wanita Kazakhstan

Eko mengungkapkan bahwa penangkapan Andre Fernando alias The Doctor dilakukan di sebuah apartemen di Penang, Malaysia, tepatnya di Crowne Plaza Penang Straits City, Jalan Bagan Luar, Butterworth, Pulau Penang. Saat ditangkap, The Doctor sedang berada di kamar nomor 1923 bersama seorang perempuan berkewarganegaraan Kazakhstan yang berinisial BR. Tim gabungan langsung melakukan penggeledahan, namun paspor The Doctor tidak ditemukan di tempat kejadian.

Oleh karena itu, The Doctor tidak langsung dipulangkan atau dideportasi. Proses pemulangan baru dapat dilakukan setelah KJRI Penang menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Kasus ini semakin menegaskan keterlibatan The Doctor dalam jaringan narkoba yang luas, dengan polisi terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap lebih banyak fakta terkait operasi ilegal ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga