Ammar Zoni Serukan Perhatian Pemerintah Jelang Putusan Kasus Dugaan Narkoba
Artis peran Ammar Zoni secara terbuka meminta perhatian dari pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, menjelang putusan kasus dugaan peredaran narkoba yang menjeratnya di Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Dalam pernyataannya, Ammar menegaskan bahwa dirinya bukan seorang narapidana dengan risiko tinggi, dan berharap hal ini dapat menjadi pertimbangan khusus dalam penanganan kasusnya.
Permohonan Langsung kepada Presiden dan Menteri
Usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (16/4/2026), Ammar Zoni menyampaikan harapannya agar Menteri terkait dan Presiden Prabowo Subianto dapat memberikan perhatian terhadap kondisi dirinya. "Saya berharap juga agar Pak Menteri bisa melihat dan Bapak Presiden juga mungkin bisa menjadi atensi tersendiri untuk bisa memilah kalau saya bukan seorang napi dengan risiko tinggi seperti yang disampaikan oleh kuasa hukum saya," ujar Ammar dengan nada serius.
Permintaan ini diajukan dalam konteks persidangan yang tengah berlangsung, di mana Ammar menghadapi ancaman hukuman atas kasus narkoba. Ia menekankan bahwa statusnya sebagai tersangka tidak seharusnya disamakan dengan narapidana berisiko tinggi, yang seringkali mendapatkan penanganan lebih ketat dalam sistem peradilan pidana.
Keinginan untuk Tidak Ditempatkan di Lapas Nusakambangan
Lebih lanjut, Ammar Zoni mengungkapkan keinginannya agar dirinya tidak lagi ditempatkan di Lapas Nusakambangan yang terletak di Cilacap, Jawa Tengah. Lapas ini dikenal sebagai lembaga pemasyarakatan dengan tingkat keamanan tinggi, seringkali digunakan untuk narapidana kasus berat atau berisiko.
Permohonan ini didasarkan pada keyakinan Ammar bahwa penempatannya di sana tidak sesuai dengan profil risikonya yang dianggap rendah. Ia berargumen bahwa kuasa hukumnya telah menyampaikan hal serupa, dan berharap pemerintah dapat mempertimbangkan faktor-faktor kemanusiaan serta kondisi pribadinya dalam proses hukum ini.
Kasus ini telah menarik perhatian publik, mengingat status Ammar Zoni sebagai figur publik. Sidang-sidang sebelumnya dilaporkan menunjukkan wajahnya yang terlihat pucat dan lelah, diduga karena kurang tidur akibat memikirkan vonis yang akan dijatuhkan. Dengan putusan yang semakin dekat, permintaan Ammar ini menjadi upaya terakhirnya untuk mendapatkan perlakuan yang lebih sesuai sebelum keputusan akhir diumumkan.



