Krisis Sampah Melanda Jakarta Barat: Saluran Pembuangan Rusunawa Tersumbat hingga Lantai Enam
Bau tak sedap yang menyengat telah menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga Jakarta Barat selama beberapa pekan terakhir. Sumber masalahnya berasal dari tumpukan sampah yang belum diangkut oleh truk Dinas Kebersihan, menciptakan gunungan sampah di berbagai titik strategis wilayah tersebut.
Wilayah yang Terdampak dan Kondisi Memprihatinkan
Area luar Pasar Kopro di Grogol Petamburan, badan Jalan Kanal Banjir Barat, serta Rusun Angke di Tambora menjadi episentrum krisis sampah ini. Di sekitar Pasar Kopro, tumpukan sampah telah meluber hingga ke badan jalan dengan komposisi limbah rumah tangga, kantong plastik, karung, hingga kasur bekas.
Kawasan tersebut berubah menjadi area yang kotor dan becek dengan bau menyengat yang memicu mual. Lantai di sekitarnya menghitam akibat cairan lindi yang merembes dari tumpukan sampah, sementara gerobak penuh sampah berjejer menunggu pengangkutan.
Keluhan Warga dan Pedagang
Yahya, seorang pedagang di sekitar lokasi, mengungkapkan kekecewaannya. "Aroma tak sedap ini sangat mengganggu sebelum sampah akhirnya diangkut petugas. Tumpukan sampah juga menurunkan minat pelanggan untuk berbelanja," ujarnya. Ia menegaskan bahwa warga telah membayar iuran kebersihan setiap bulan namun tetap menghadapi masalah yang sama.
Kondisi lebih parah dialami Masruroh (67), pedagang sayur di kawasan Rusun Tambora. Tumpukan sampah di samping warungnya sempat mengeluarkan cairan lindi yang merembes ke berbagai arah, diikuti invasi belatung yang menggerogoti sampah basah rumah tangga. Puncaknya terjadi ketika sampah menumpuk hingga setinggi atap warung, menyebabkan tembok tempatnya berdagang roboh karena tak mampu menahan beban.
Krisis di Saluran Pembuangan Vertikal Rusunawa
Persoalan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan di lorong saluran pembuangan vertikal (trash chute/shaft) Rusun Angke Tambora. Saluran berukuran 30 x 60 sentimeter yang terintegrasi dari lantai satu hingga 16 ini berfungsi menjatuhkan sampah rumah tangga ke penampungan di lantai dasar.
Namun, penampungan yang sudah penuh dan belum diangkut menyebabkan sampah baru tersumbat di dalam saluran. Pada Tower B, sampah telah tersumbat selama kurang lebih satu bulan dan menumpuk hingga lantai tiga. Sementara di Tower C, kondisi lebih parah dengan sampah menumpuk hingga lantai enam.
Imbasnya, warga di lantai bawah tidak lagi dapat membuang sampah melalui shaft dan harus turun langsung ke lantai dasar, menambah beban aktivitas sehari-hari.
Petugas Kebersihan Hadapi Tantangan Berat
Pelaksana Kebersihan Rusunawa Tambora, Soiful Bahri, mengungkapkan kompleksitas pekerjaan membersihkan shaft tersebut. "Petugas harus masuk ke dalam shaft yang dipenuhi sampah berbau busuk untuk mengeruk tumpukan secara manual," jelasnya.
Sampah-sampah itu ditarik keluar, dimasukkan ke dalam tong sampah besar, lalu dibawa turun menggunakan lift. Kendati telah diimbau, tetap ada penghuni yang membuang sampah selama proses pembersihan, bahkan sampai menimpa petugas yang sedang bekerja.
Akar Masalah: Pembatasan Kuota di Bantargebang
Setelah ditelusuri, salah satu faktor utama penumpukan sampah di Jakarta Barat adalah pembatasan kuota pembuangan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Kuota dikurangi dari 308 truk menjadi hanya 190 truk per hari pasca-insiden longsor pada 8 Maret lalu di TPST terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Pembatasan ini menyebabkan pengangkutan sampah di sejumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) terhambat, sementara produksi sampah masyarakat tidak berkurang. Akibatnya, penumpukan sampah tak terhindarkan di berbagai titik.
Strategi Penanganan dan Solusi Jangka Panjang
Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat menerapkan strategi pengangkutan bertahap untuk menyiasati pembatasan kuota. Kepala Suku Dinas LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menjelaskan bahwa pengangkutan bertahap dilakukan dengan memadatkan sampah dari lima unit pengangkut berkapasitas kecil ke dalam satu truk berkapasitas besar sebelum diangkut ke Bantar Gebang.
Namun, Hariadi menegaskan perlunya solusi jangka panjang dengan fokus pada pengelolaan sampah dari hulu. "Pemilahan sampah menjadi semakin mendesak, mengingat belum ada kepastian kapan pembatasan kuota di Bantar Gebang akan berakhir," tegasnya.
Ia mengungkapkan fakta mencengangkan: residu sampah yang diangkut ke Bantar Gebang mencapai lebih dari 70 persen dari total produksi sampah masyarakat. Untuk itu, pemilahan dianggap sebagai langkah krusial agar volume sampah di sumber dapat berkurang dan tidak menumpuk di TPS.
Pihaknya kini menggencarkan kegiatan gerebek pilah sampah serta workshop di sejumlah titik, termasuk di Rusun Tambora pada pekan lalu. Data terbaru menunjukkan Jakarta Barat masih dihadapkan pada tingginya timbulan sampah sekitar 807.966 ton per tahun, namun hanya 212.450 ton atau sekitar 26 persen yang dimanfaatkan kembali setiap tahunnya.
Krisis sampah ini mengingatkan semua pihak akan urgensi pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, terutama di tengah keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir seperti Bantar Gebang.



