DLH Banyumas Kembangkan TPST Berbasis Lingkungan dan Edukasi untuk Atasi Lonjakan Sampah
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tengah mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor. Inisiatif ini bertujuan mengurangi beban pengolahan sampah seiring meningkatnya timbulan harian yang signifikan di wilayah tersebut.
Kapasitas Terbatas Hadapi Lonjakan Volume
Kepala DLH Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, mengungkapkan bahwa kapasitas TPST BLE yang saat ini beroperasi hanya dirancang untuk mengolah sekitar 40 ton sampah per hari. Namun, realitas di lapangan menunjukkan volume sampah yang masuk jauh melampaui angka tersebut. "Sekarang sampah yang masuk bisa mencapai 160 ton per hari untuk organik yang sudah terpilah dan sekitar 60 ton bahan RDF. Ini jauh di atas kapasitas desain awal," jelas Widodo, seperti dilansir Antara, Selasa (14/4/2026).
Peningkatan volume sampah ini tidak terlepas dari berkembangnya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang aktif mengelola sampah di tingkat desa. Saat ini, terdapat sekitar 70 KSM di Banyumas, dengan 40-50 di antaranya telah memiliki infrastruktur pengolahan yang memadai. Secara keseluruhan, pengelolaan oleh KSM mampu menangani sekitar 500 ton sampah rumah tangga per hari dari total timbulan sampah di Banyumas yang mencapai kisaran 700-800 ton per hari, papar Widodo.
Rencana Perluasan dan Peningkatan Kapasitas
Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen diolah menjadi bahan bakar turunan (refuse-derived fuel/RDF) atau sekitar 150 ton per hari, serta sekitar 40 ton sampah organik. Menghadapi kondisi ini, DLH Banyumas berencana melakukan perluasan dan peningkatan kapasitas TPST BLE dengan luasan yang diperkirakan hampir sama dengan fasilitas eksisting, yaitu sekitar 1,5 hektare.
Widodo menjelaskan bahwa pengembangan tersebut saat ini dalam proses lelang oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui satuan kerja di tingkat provinsi. Harapannya, konstruksi dapat dimulai dan diselesaikan pada tahun 2026. Dengan adanya pengembangan ini, TPST BLE ditargetkan dapat meningkatkan cakupan layanan pengelolaan sampah di Banyumas dari sekitar 75 persen menjadi 78-80 persen. "Kami tidak menargetkan terlalu tinggi, tetapi yang penting ada peningkatan layanan dan tekanan terhadap TPST bisa berkurang," ucap Widodo.
Dorong Penguatan Bank Sampah dan Sinergi KSM
Selain fokus pada penguatan TPST BLE, DLH Banyumas juga mendorong penguatan bank sampah di tingkat desa untuk menangani berbagai jenis sampah, termasuk yang bernilai rendah seperti plastik kresek dan limbah rumah tangga lainnya. Saat ini, jumlah bank sampah aktif masih sekitar 40-an unit, sehingga ke depan ditargetkan dapat terbentuk di seluruh desa dan kelurahan yang berjumlah 331 wilayah, terdiri atas 301 desa dan 30 kelurahan.
Keberadaan bank sampah akan disinergikan dengan KSM agar pengelolaan sampah menjadi lebih optimal dan berkelanjutan. Sinergi ini juga mencakup pengumpulan minyak jelantah yang selama ini lebih banyak dikelola oleh bank sampah. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Banyumas membuka peluang investasi dalam pengolahan sampah, termasuk rencana kerja sama dengan investor dari Malaysia untuk pengolahan bijih plastik dari limbah plastik.
Pendekatan Holistik untuk Keberlanjutan
Widodo menekankan bahwa pengembangan TPST BLE tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga meliputi:
- Penguatan kelembagaan
- Kesiapan sumber daya manusia
- Penyusunan standar operasional prosedur (SOP)
- Dukungan pembiayaan operasional
Pendekatan holistik ini dinilai penting agar infrastruktur yang dibangun tidak hanya selesai secara konstruksi, tetapi benar-benar berfungsi optimal, dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak nyata dalam pengurangan beban sampah di Kabupaten Banyumas. "Infrastruktur harus memberikan dampak nyata, bukan sekadar proyek fisik," tegas Widodo.



