Praktik Pungli Preman Terus Hantui Sopir Bajaj di Tanah Abang
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta, transportasi bajaj tetap menjadi pilihan bagi masyarakat, terutama di sekitar Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kendaraan ini bukan sekadar alat mobilitas, melainkan sumber penghidupan bagi banyak sopir yang bergantung pada pendapatan harian. Namun, di balik perannya, tersimpan persoalan lama yang masih membayangi: praktik pemalakan oleh preman.
Pemandangan Sehari-hari yang Menyesakkan
Di depan pintu masuk Blok A Pasar Tanah Abang, seorang sopir bajaj bernama Edi mengalaminya langsung. Setelah menurunkan penumpang, dua pria menghampirinya untuk meminta "jatah". Edi, yang telah menjadi sopir selama 11 tahun, mengaku ini adalah kejadian rutin. "Blok A itu. Tapi kalau mangkal, yang minta (uang) banyak," ujarnya. Dalam sehari, ia bisa dihadapkan pada lima orang berbeda yang menuntut uang, dengan nominal mulai dari Rp 5.000 per orang.
Penghasilan rata-rata Edi sebesar Rp 200.000 per hari, yang seharusnya cukup untuk kebutuhan keluarga dan pembayaran kepada pemilik bajaj, terpaksa dibagi dengan para preman. Kondisi ini kian menyesakkan, terutama karena praktik ini telah mengakar sejak lama. Menjelang bulan puasa, ketika aktivitas pasar meningkat, tekanan pemalakan justru semakin intens, bertolak belakang dengan semangat keberkahan yang seharusnya dirasakan.
Ancaman dan Ketakutan yang Nyata
Menolak memberikan jatah bukanlah pilihan bagi Edi dan rekan-rekannya. Risikonya besar: mereka bisa dilarang mangkal di sekitar Tanah Abang, tempat mereka mencari nafkah. Lebih buruk lagi, ancaman kekerasan fisik seperti pengeroyokan atau pemukulan kerap terjadi terhadap sopir bajaj atau pedagang yang berani menolak. Edi bercerita, bahkan petugas keamanan setempat sering kali diam dan tidak berani mengambil tindakan. "Ada security juga diam doang, security nggak berani," ungkapnya.
Identitas para preman ini pun tidak jelas. Wajah mereka familiar, tetapi asal-usulnya tidak diketahui. Edi menduga mereka adalah warga sekitar Pasar Tanah Abang. Baginya, yang penting adalah bisa bekerja tanpa rasa takut dan bayang-bayang preman, namun kenyataannya hal itu sulit diwujudkan.
Harapan Sederhana untuk Perubahan Nyata
Di balik kegelisahannya, Edi masih menyimpan harapan. Ia meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk memberantas praktik pemalakan ini. "Ya dibasmi lah dijaga, tiap hari paling nggak dirazia lah," katanya. Edi berharap razia yang dilakukan bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar mampu mengatasi masalah hingga ke akarnya. Peran aparat dan kebijakan yang serius sangat dinantikan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan tenang.
Harapan Edi sederhana: bisa bekerja tanpa ketakutan dan tekanan dari preman. Dalam ketidakberdayaannya melawan sendiri, ia mengandalkan intervensi pemerintah untuk mengakhiri siklus pemalakan yang telah merugikan banyak sopir bajaj di Tanah Abang. Praktik ini tidak hanya menggerogoti penghasilan, tetapi juga mengikis rasa aman dan martabat para pekerja keras ini.



