Kilas Balik Pembunuhan Benigno Aquino Jr, Tokoh Oposisi Filipina di Bandara Manila 1983
Pembunuhan Benigno Aquino Jr, Tokoh Oposisi Filipina 1983

Kilas Balik Pembunuhan Benigno Aquino Jr, Tokoh Oposisi Filipina di Bandara Manila 1983

Jakarta - Pemimpin oposisi Filipina, Benigno Aquino Jr, tewas dibunuh tepat setelah ia tiba di tanah airnya pada 21 Agustus 1983. Peristiwa tragis ini terjadi di Lapangan Terbang Antarabangsa Manila, hanya beberapa menit setelah pesawatnya mendarat, menghentikan langkah-langkah politik damai yang ia dorong untuk menstabilkan negara.

Kembalinya Sang Tokoh Oposisi

Aquino memutuskan kembali ke Filipina setelah tiga tahun menjalani masa pengasingan di Amerika Serikat. Sebelumnya, ia ditawari kesempatan untuk meninggalkan negara itu pada 1980 guna menjalani operasi jantung di AS, setelah dijatuhi hukuman mati karena tuduhan subversi pada 1977. Meski operasi selesai, ia tak langsung pulang, memilih menjadi eksil hingga 1983.

Dalam perjalanan pulang, Aquino berbicara kepada wartawan di dalam pesawat, mengungkapkan kesadaran akan risiko yang dihadapinya. "Saya kira ada bahaya fisik karena Anda tahu pembunuhan adalah bagian dari pelayanan publik," katanya. Ia menambahkan, "Perasaan saya adalah kita semua harus mati suatu saat nanti dan jika itu takdir saya untuk mati oleh peluru seorang pembunuh, biarlah." Pernyataan ini menunjukkan tekadnya untuk memperjuangkan perdamaian di tengah ketegangan politik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Momen Tragis di Landasan Pacu

Ketika pesawat mendarat di bandara Manila, Aquino langsung diamankan oleh tentara dan dikawal keluar. Namun, tak lama kemudian, saksi mata melaporkan mendengar rentetan tembakan. Mereka melihat Aquino tergeletak dalam genangan darah di landasan pacu, mengakhiri hidupnya secara tragis. Di dekat lokasi kejadian, mayat seorang pria yang diduga sebagai pembunuh juga ditemukan, menambah misteri dalam kasus ini.

Dampak dan Kontroversi Politik

Pembunuhan Aquino terjadi saat politik Filipina mengalami kekacauan selama 20 tahun pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos. Aquino, yang pernah menjadi anggota parlemen termuda di Filipina pada usia 35 tahun, muncul sebagai sosok politikus muda yang diharapkan dapat menyatukan negara. Ia bahkan digadang-gadang sebagai calon presiden yang kuat sebelum pemberlakuan darurat militer pada 1972, yang membuatnya dicap sebagai Komunis oleh Marcos dan dipenjara selama tujuh tahun.

Setelah kematiannya, Marcos menyatakan bahwa pembunuh Aquino adalah 'pembunuh profesional' dan mengklaim bahwa Aquino menjadi korban penembak tunggal. Namun, klaim ini tidak meyakinkan banyak orang di Filipina, menimbulkan perdebatan publik yang berkepanjangan. Kasus pembunuhan Aquino hingga kini masih menjadi sorotan, mencerminkan kompleksitas dan ketegangan dalam sejarah politik Filipina.

Peristiwa ini tidak hanya menghentikan langkah-langkah damai yang Aquino usung, tetapi juga memperdalam krisis politik di negara itu, meninggalkan warisan yang terus dikenang dalam narasi perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga