Kematian Mantan Buruh Pelabuhan Ermanto Usman Penuh Tanda Tanya, Rieke Diah Pitaloka Turun Tangan
Kematian Ermanto Usman Penuh Tanda Tanya, Rieke Turun Tangan

Kematian Mantan Buruh Pelabuhan Ermanto Usman Penuh Tanda Tanya, Rieke Diah Pitaloka Turun Tangan

Berita kematian Ermanto Usman (65), seorang pensiunan yang pernah aktif di organisasi buruh Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia, telah menimbulkan kehebohan. Ermanto tewas dibunuh di rumahnya di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (2/3) dini hari. Meskipun awalnya disebut sebagai perampokan, kematiannya dianggap janggal, sehingga menarik perhatian anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, yang ikut mengawal kasus ini.

Rieke Diah Pitaloka Minta LPSK Berikan Perlindungan

Rieke bersama kuasa hukum dari perwakilan Jakarta International Container Terminal (JICT) telah turun tangan dengan meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memberikan perlindungan kepada keluarga korban. Dilansir dari Antara, meskipun Ermanto telah pensiun dari JICT, Rieke menyebut bahwa korban masih aktif mengikuti perkembangan berbagai persoalan di sektor pelabuhan.

Rieke berharap kasus ini dapat terungkap secara terang benderang karena menyisakan banyak tanda tanya. Ia mendorong polisi tidak hanya mengungkap pelaku eksekutor, tetapi juga pihak-pihak yang berada di balik peristiwa tersebut. “Kami mendukung penuh kepada jajaran kepolisian dapat bekerja cepat dan profesional untuk mengungkap kasus ini secara tuntas,” kata anggota komisi urusan hak asasi manusia itu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kronologi Penemuan Mayat dan Kondisi Keluarga

Ermanto Usman menjadi korban dugaan perampokan dan pembunuhan di Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Kota, Komisaris Polisi Andi Muhammad, menjelaskan bahwa kasus tersebut berawal dari laporan anak korban terkait perampokan di tempat kejadian perkara (TKP).

Anak korban yang biasa dibangunkan oleh ibunya untuk persiapan sahur tiba-tiba tidak dibangunkan hingga alarm berbunyi pukul 04.00 WIB. Saat turun dari kamar, ia terkejut karena rumahnya masih gelap dan orang tuanya tidak menjawab saat dipanggil. Korban lantas mencoba membuka pintu kamar orang tuanya, tetapi gagal karena sudah dirusak.

Kemudian, anak korban memanggil anggota keluarga lain dan berhasil menuju ke TKP dengan membuka paksa jendela kamar. “Saat itulah kedua korban ditemukan dalam kondisi tergeletak, ayahnya berinisial EU (65) ditemukan tewas dan istrinya, P (60), kondisinya kritis,” kata Andi saat dikonfirmasi di Jakarta pada Senin (2/3).

LPSK Siap Berikan Perlindungan dan Bantuan

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah menyatakan kesiapannya untuk melindungi keluarga Ermanto Usman. “LPSK siap memberikan perlindungan serta memastikan pemenuhan hak dan pemberian bantuan kepada saksi dan korban sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan,” kata Ketua LPSK Achmadi dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada hari Jumat.

Anggota keluarga korban, yang terdiri dari anak sulung, anak bungsu yang berada di lokasi kejadian, dan menantu, telah mengajukan permohonan perlindungan ke LPSK pada Kamis (5/3). Achmadi menyampaikan bahwa langkah awal koordinasi telah dilakukan dengan penegak hukum. Koordinasi ini dinilai penting untuk memastikan proses penanganan berjalan secara tepat, profesional, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kasus ini terus berkembang dengan harapan bahwa polisi dapat mengungkap kebenaran di balik kematian Ermanto Usman yang penuh misteri. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Rieke Diah Pitaloka dan LPSK, diharapkan dapat mempercepat penyelesaian kasus ini dan memberikan keadilan bagi keluarga korban.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga