Sidang kasus pemerasan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus berlanjut. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026, terjadi momen menarik ketika hakim mengatakan "terserah" kepada salah satu terdakwa.
Sebelas Terdakwa dalam Kasus Pemerasan
Kasus pemerasan ini melibatkan 11 orang terdakwa, yaitu:
- Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer atau Noel
- Fahrurozi, Dirjen Binwasnaker dan K3 pada Maret 2025
- Hery Sutanto, Direktur Bina Kelembagaan tahun 2021 hingga Februari 2025
- Subhan, Subkoordinator Keselamatan Kerja Dit Bina K3 tahun 2020-2025
- Gerry Aditya Herwanto Putra, Koordinator Bidang Pengujian dan Evaluasi Kompetensi Keselamatan Kerja tahun 2022
- Irvian Bobby Mahendro, Koordinator Bidang Kelembagaan dan Personil K3 tahun 2022-2025
- Sekarsari Kartika Putri, Subkoordinator Bidang Pengembangan Kelembagaan K3 pada Ditjen Binwasnaker dan K3
- Anitasari Kusumawati, Subkoordinator Kemitraan dan Personel Kesehatan Kerja tahun 2020
- Supriadi, Pengawas Ketenagakerjaan Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Bidang Pemberdayaan Personel K3 pada Ditjen Binwasnaker dan K3
- Miki Mahfud, pihak PT KEM Indonesia
- Temurila, pihak PT KEM Indonesia
Dalam dakwaan, jaksa menyebutkan para terdakwa memaksa pemohon sertifikasi dan lisensi K3 untuk memberikan uang dengan total mencapai Rp 6.522.360.000 (Rp 6,5 miliar). Praktik ini berlangsung sejak tahun 2021, atau sebelum Noel menjabat sebagai Wamenaker.
Fahrurozi Akui Terima Jatah Bulanan
Salah satu terdakwa, Fahrurozi, mengaku menerima uang Rp 20 juta per bulan setelah dilantik sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen. Uang tersebut, menurut Fahrurozi, merupakan ucapan terima kasih dari Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3).
Pengakuan itu disampaikan Fahrurozi saat diperiksa di persidangan. Ia menerima uang tersebut dari Hery Sutanto secara rutin setiap bulan. Total uang yang diterima Fahrurozi mencapai Rp 100 juta.
"Berarti ini tiap bulan ya, Pak?" tanya jaksa.
"Kelihatannya seperti itu, Pak," jawab Fahrurozi.
Fahrurozi mengaku menyesal telah menerima uang tersebut. Ia baru mengetahui bahwa uang itu berasal dari PJK3 setelah menanyakannya kepada Hery pada Oktober 2024.
Hakim Heran dengan Jawaban Fahrurozi
Dalam persidangan, hakim merasa heran karena Fahrurozi kerap menjawab tidak tahu saat ditanya tentang praktik pemerasan yang terjadi di lingkungan Kemnaker. Hakim menekankan bahwa praktik tersebut telah berlangsung bertahun-tahun.
"Pak, bapak ada di sana. Kejadian itu kan berlangsung bertahun-tahun pak, masak sampai nggak dengar itu loh orang di sana," ujar hakim.
"Betul, saya memang nggak dengar," jawab Fahrurozi.
Hakim kemudian menyebut bahwa semua saksi dari Kemnaker mengetahui praktik tersebut, dan hanya Fahrurozi yang mengaku tidak tahu. Fahrurozi tetap pada pendiriannya bahwa ia tidak pernah mendengar informasi tentang pemerasan.
"Terus Bapak orang luar?" tanya hakim.
"Orang luar saya," jawab Fahrurozi.
"Paling tidak kan Bapak berkecimpung di sana," timpal hakim.
"Tidak, Yang Mulia, tidak pernah," jawab Fahrurozi.
"Terserah Bapak ya," sahut hakim.
Hakim juga mendalami pengetahuan Fahrurozi terkait blanko penerbitan sertifikat K3. Fahrurozi kembali mengaku tidak paham. Hakim pun menyatakan kebingungan karena Fahrurozi tidak memahami banyak hal terkait kasus tersebut.
Noel Bantah Minta Ducati
Eks Wamenaker Immanuel Ebenezer Gerungan (Noel) membantah pernah meminta satu unit Ducati Scrambler berwarna biru dongker kepada Irvian Bobby Mahendro. Noel menegaskan bahwa inisiatif pemberian motor tersebut berasal dari Bobby.
Noel menceritakan bahwa awalnya Bobby menanyakan hobinya. Setelah beberapa minggu, teman-teman Bobby terus mendorong Noel untuk mencoba motor tersebut. Akhirnya, Noel menghubungi Bobby dan meminta motor itu dikirimkan ke alamat rumahnya.
"Ya udah saya bilang akhirnya berapa minggu kemudian saya telepon 'Bob, motormu itu jadi kamu kasih ke saya?' 'Ya udah Pak, kirim aja alamatnya'. Saya kirim alamat saya. Ternyata tidak sesuai kenapa? Motornya besar, saya jatuh," imbuh Noel.
Noel mengaku tidak pernah menyebut merek motor tertentu karena tidak paham soal motor. Ia juga membantah pernah menanyakan "motor apa yang cocok buat saya" kepada Bobby.
Dalam sidang, Noel menyebut Bobby sebagai "top spender" atau pembeli tertinggi di Mal Senayan City. Ia menjelaskan alasan memberikan sebutan "sultan" Kemnaker kepada Bobby karena gaya hidupnya yang mewah, seperti suka memakai mobil mewah, memiliki tiga istri, dan menjadi pembelanja tertinggi di mal tersebut.



