Delpedro Marhaen Rayakan Kebebasan dengan Syukuran Sederhana dan Pallubasa
Suasana hangat dan penuh syukur menyelimuti Delpedro Marhaen setelah dinyatakan bebas oleh Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kebebasan Direktur Eksekutif Lokataru ini disambut dengan perayaan yang sederhana namun sarat makna, tanpa seremoni besar atau kemewahan, melainkan berkumpul bersama keluarga, kawan, dan rekan aktivis yang setia mendukungnya.
Syukuran Sederhana Penuh Kehangatan Keluarga dan Aktivis
Kepulangan Delpedro ke rumah dirayakan dengan syukuran sederhana, tanpa persiapan khusus. Ia berkumpul dengan sanak saudara dalam kehangatan yang mungkin sudah lama tidak terasa. Malam itu, ia juga mengadakan buka bersama dengan keluarga dan beberapa kawan aktivis yang turut hadir, sebagai bentuk rasa syukur atas kebebasannya serta dukungan moral yang selama ini diberikan. "Kami langsung adakan buka bersama, sekaligus syukuran kemarin. Beberapa rekan aktivis hadir dan memberikan ucapan dukungan," tutur Delpedro.
Tak hanya keluarga, Delpedro dijemput oleh kawan-kawan yang telah menunjukkan solidaritas sejak awal hingga putusan pembebasan berlangsung. "Keluarga dan teman-teman yang menyaksikan sidang putusan kemarin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, mereka ikut menjemput juga," tulis Delpedro saat dikonfirmasi.
Pallubasa sebagai Hidangan Favorit dan Dukungan untuk Iran
Dalam menghadapi putusan sidang, Delpedro mengaku tidak meminta permintaan khusus, namun ia meminta untuk dibawakan bendera Iran saat pembacaan putusan. Bendera itu dibentangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai bentuk dukungan kepada Iran pasca penyerangan oleh Israel dan Amerika Serikat, serta ungkapan duka atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. "Saya hanya minta dibawakan bendera Iran saja kemarin, sebagai dukungan terhadap Iran dan ungkapan duka atas syahidnya pemimpin Iran, Ali Khamenei," ucap Delpedro.
Selain bendera, suasana menjadi lebih hangat dengan kehadiran makanan favorit Delpedro, yaitu Pallubasa, hidangan khas Makassar, Sulawesi Selatan yang kaya rempah, wangi, dan kuah gurih. "Keluarga tahu itu makanan kesukaan saya," kata Delpedro, menunjukkan sentuhan personal dalam perayaan kebebasannya.
Putusan Bebas dari Dugaan Penghasutan Kerusuhan
Delpedro Marhaen, bersama tiga orang lainnya yaitu Muzaffar Salim, Syahdan Husein, dan Khariq Anhar, divonis bebas oleh majelis hakim atas perkara dugaan penghasutan yang berujung kericuhan saat aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025. Hakim menyatakan, "Tidak terdapat bukti bahwa para terdakwa telah mengetahui informasi tersebut keliru sebelum menyebarkannya. Tidak terdapat bukti hubungan sebab akibat langsung atau antara unggahan para terdakwa dengan terjadinya kerusuhan. Kerusuhan yang terjadi lebih berkaitan dengan peristiwa faktual di lapangan yang berdiri sendiri."
Putusan ini memerintahkan pembebasan mereka dari tahanan seketika setelah diucapkan pada Jumat, 6 Maret 2026, menandai akhir dari proses hukum yang panjang. Perayaan sederhana dengan Pallubasa dan syukuran menjadi simbol kebahagiaan dan keteguhan Delpedro serta pendukungnya dalam menghadapi tantangan ini.
