Kota Bekasi – Satu unit taksi tertemper kereta di perlintasan kereta api di Jalan Ampera, Kota Bekasi, hingga memicu dua kereta tabrakan di Stasiun Bekasi Timur. Perlintasan ini ternyata tidak memiliki palang pintu resmi. Berikut penampakannya.
Kondisi Perlintasan Jalan Ampera
Pantauan detikcom di Jalan Ampera, Selasa (29/4/2026), perlintasan tersebut berjarak kurang lebih 50 meter dari Stasiun Bekasi Timur. Lebar perlintasan itu sekitar 5 meter. Kendaraan yang melintas di perlintasan ini cukup padat, mulai dari truk, mobil, hingga motor berlalu-lalang.
Di sekitar perlintasan, terdapat rambu-rambu tanda peringatan adanya rel kereta api. Namun, di perlintasan ini tidak terdapat palang pintu resmi atau palang otomatis. Sebagai gantinya, warga setempat menggunakan palang darurat dari bambu. Palang bambu itu hanya ada di satu sisi perlintasan, sementara sisi lainnya tidak ada.
Penjagaan oleh Warga
Perlintasan kereta ini hanya dijaga oleh warga. Ketika kereta hendak lewat, seorang warga yang mengatur lalu lintas akan memperingatkan kendaraan yang mau melintas dengan cara berteriak. Kemudian, warga tersebut menurunkan palang dari bambu agar kendaraan berhenti. Ia juga berteriak memperingatkan kendaraan dari arah sebaliknya untuk berhenti dan menunggu kereta melintas.
Warga sekitar, Tasmin (80), mengatakan sering terjadi kecelakaan kendaraan tertemper kereta di perlintasan Jalan Ampera tersebut. “Dulu sering, sempat pernah sebulan sekali kecelakaan. Kecelakaan sering terjadi dari 5 tahun lalu,” ujar Tasmin. Pria yang sudah 50 tahun berdagang bakso ini menambahkan bahwa pengendara kadang nekat menerobos perlintasan meski sudah diperingatkan. “Kadang-kadang orang nyelong aja, banyak yang apes karena mesin mobil mati di tengah,” imbuhnya.
Kasus Bunuh Diri dan Upaya Warga
Selain kasus tabrakan kendaraan dengan kereta, Tasmin menyebut tidak jarang ada kasus bunuh diri di dekat perlintasan ini. “Ada yang bunuh diri juga. Ada beberapa kali yang coba bunuh diri tapi sudah dihalau bocah-bocah,” ucap Tasmin. Karena perlintasan tidak punya palang, warga berinisiatif membeli bambu. Sebilah bambu itu digunakan sebagai palang darurat. “Perlintasan pakai bambu sudah puluhan tahun, kalau rusak diganti,” jelasnya.
Harapan Pembangunan Flyover
Karena terlalu sering terjadi kecelakaan, warga sekitar bahu-membahu berjaga. Tasmin menyebut ada sekitar 4 shift jaga setiap harinya. “Jam 1 malam ada yang jaga 1 orang,” ujar Tasmin. Ia menyebut sudah banyak pejabat yang datang ke perlintasan ini berjanji untuk memperbaikinya. Terakhir, kata Tasmin, ada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berjanji membangun flyover. “Gubernur sudah datang kemarin belum lama, tapi rencana dari jaman baheula, dari jaman Pak Harto,” tuturnya. Meski rencana pembangunan sudah lama, flyover tak kunjung terealisasikan. Ia berharap flyover bisa segera dibangun di perlintasan kereta Jalan Ampera agar tidak ada lagi kasus kecelakaan serupa.
Kronologi Kecelakaan
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan tersebut terjadi pada Senin (27/4) malam. Total korban tewas akibat kecelakaan itu berjumlah 14 orang. Selain itu, ada 84 orang yang terluka. Kecelakaan terjadi saat KRL yang ditabrak sedang berhenti karena ada KRL lain yang tertemper taksi di perlintasan di Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan keras mengakibatkan gerbong khusus wanita yang berada di belakang robek ditembus oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Proses evakuasi korban kecelakaan kereta telah selesai. Seluruh korban yang dievakuasi berjenis kelamin perempuan. “100 persen yang kita evakuasi korban perempuan,” kata Kabasarnas Mayjen TNI M Syafii. Dia menjelaskan proses evakuasi selesai pada pukul 08.00 WIB. Seluruh tim SAR juga telah dipulangkan. Syafii menyatakan jika nantinya ada potongan tubuh korban yang ditemukan saat proses pembersihan bangkai kereta, pihaknya akan melakukan tindakan sesuai prosedur.



