Polda Papua mengungkapkan bahwa perang antarsuku yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dipicu oleh kasus kecelakaan yang melibatkan anggota DPRD Lanny Jaya pada tahun 2024 silam yang belum menemukan titik penyelesaian.
Penyebab Konflik Berdasarkan Keterangan Polda Papua
Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menjelaskan bahwa penyelesaian denda adat akibat kecelakaan tersebut tidak dapat direalisasikan. Biasanya, pemerintah daerah turun tangan untuk menanggulangi masalah seperti ini, terlebih karena korbannya adalah anggota DPRD kabupaten. Namun, pada saat kejadian, seluruh pejabat daerah berstatus penjabat (Pj) sehingga tidak dapat mengeluarkan anggaran untuk penyelesaian denda adat. Akibatnya, pihak yang dirugikan tidak menerima pembayaran yang sesuai, dan konflik pun meletus.
"Terjadilah perang suku mulai saat itu. Biasanya hanya kecil-kecilan, hingga mencapai puncaknya seperti sekarang," ujar Cahyo saat dihubungi pada Senin (18/5/2026).
Langkah Pemerintah dan Aparat Keamanan
Pemerintah pusat telah turun tangan dengan mengutus Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, untuk menyelesaikan konflik. Selain itu, Polda Papua juga menerjunkan personel untuk pengamanan. Kapolda Papua mengerahkan 100 personel Brimob, yang ditambah dengan Batalyon D yang sudah berada di Wamena, personel Polres, Kodim, dan Batalyon TNI lainnya sehingga terbentuk aparat gabungan TNI-Polri.
Cahyo mengklaim situasi kini berangsur kondusif setelah dialog yang digelar pada Minggu (17/5). Dialog tersebut dihadiri oleh Wamendagri Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Roby Suryadi, LO Polda Papua Pegunungan Kombes Andi Yoseph Enoch, Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, Kapolres Lanny Jaya AKBP Frans D. Tamaela, serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat.
Korban dan Dampak Perang Suku
Perang suku di Wamena telah menewaskan 13 orang dan melukai 19 orang lainnya. Bentrok ini melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma), yang awalnya terjadi di Distrik Woma, Jayawijaya pada Kamis (14/5) dan meluas ke sejumlah lokasi hingga Jumat (15/5).
Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, menyatakan bahwa dari 19 orang luka-luka, tiga orang di antaranya mengalami luka berat. Puluhan korban luka masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena. Pihak kepolisian masih mendata jumlah bangunan yang rusak atau dibakar selama perang, namun dilaporkan sebanyak 789 warga mengungsi, terdiri dari 298 anak-anak, 122 lansia, 315 pria, dan 476 wanita.
Saat ini, aparat keamanan masih melakukan pemulihan dan penjagaan di tujuh titik lokasi untuk mencegah meluasnya konflik.



