Ahli hukum dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Profesor Rodiyah, memberikan apresiasi tinggi terhadap pembangunan Laboratorium Sosial Sains Kepolisian yang dianggap sebagai terobosan futuristik dan konkret dalam dunia pendidikan kepolisian. Sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Profesi Unnes, Rodiyah menekankan bahwa fasilitas ini akan menjadi wadah pembelajaran paling nyata bagi para calon perwira Polri.
Pernyataan Profesor Rodiyah di Groundbreaking Akpol
Dalam acara groundbreaking yang digelar di Akademi Kepolisian (Akpol) di Semarang, Jawa Tengah, pada Senin 30 Maret 2026, Rodiyah menyampaikan pandangannya. "Laboratorium Sosial Sains Kepolisian ini adalah sesuatu yang futuristik, dan ini adalah bentuk kecerdasan yang sangat linier dan berbasis pada realita masyarakat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan di laboratorium ini akan memungkinkan peserta untuk mempelajari fakta serta realita sosial secara langsung, sehingga melahirkan solusi yang tepat untuk berbagai kejadian di masyarakat.
Urgensi dan Manfaat Lab Sosial Sains
Rodiyah lebih lanjut menjelaskan bahwa kehadiran laboratorium ini merupakan kebutuhan mendesak dari masyarakat itu sendiri. Dengan sarana uji ilmiah ini, siswa Akpol maupun Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) yang melakukan riset dapat:
- Menggodok data secara mendalam
- Meningkatkan literasi dalam berbagai aspek
- Melakukan observasi partisipan yang efektif
Ia menegaskan, "Lab sosial adalah keniscayaan untuk belajar secara fakta dan realita, dan mampu memberikan solusi sesuatu kebutuhan masyarakat. Lab sosial adalah bentuk pembelajaran paling konkret." Rodiyah juga menekankan pentingnya literasi digital, big data, dan kemanusiaan bagi seorang pemimpin, yang semuanya diharapkan terintegrasi dalam lab ini.
Dukungan dari Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo
Di sisi lain, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menyatakan bahwa pembangunan laboratorium ini dirancang sebagai bagian dari upaya menghadapi dinamika tugas kepolisian yang semakin kompleks. Dalam kutipan dari buku 'Laboratorium Sosial Sains Kepolisian' pada Minggu 29 Maret 2026, ia menjelaskan bahwa perubahan zaman yang cepat, didorong revolusi digital dan pergeseran geopolitik, memerlukan pendekatan baru.
"Pendekatan pembelajaran kepolisian tidak cukup hanya berbasis teori. Diperlukan proses pengujian melalui analisis kondisi faktual di lapangan serta prediksi dampak dari setiap tindakan yang diambil," kata Komjen Dedi. Ia menambahkan bahwa laboratorium ini bertujuan untuk menjembatani teori dan praktik, sekaligus mengembangkan kapasitas personel yang adaptif.
Transformasi Pendidikan Kepolisian
Komjen Dedi, yang juga mantan Inspektur Pengawasan Umum Polri, menyebut bahwa pengembangan fasilitas ini diarahkan untuk mendorong perubahan menyeluruh dalam pendidikan kepolisian. Perubahan tersebut mencakup:
- Pola pikir (mindset) yang lebih inovatif
- Budaya kerja (culture set) yang efisien
- Cara bertindak (action set) yang responsif terhadap tuntutan zaman
"Transformasi tidak hanya terkait perubahan struktural, tetapi juga mindset, culture set, dan action set yang menyesuaikan dengan tuntutan zaman dan ekspektasi masyarakat," pungkasnya. Dengan demikian, Laboratorium Sosial Sains Kepolisian diharapkan tidak hanya sebagai ruang eksperimen, tetapi juga pendukung pembentukan karakter personel Polri yang siap menghadapi tantangan masa depan.



