Balita Tewas di Lubang Proyek Manggarai: Evakuasi 7 Jam, Teriakan Terakhir
Balita Tewas di Lubang Proyek: Evakuasi 7 Jam dan Teriakan Terakhir

Garis polisi membentang mengelilingi proyek pembangunan Lapangan Multifungsi Taman RW 04 di Jalan Manggarai Utara II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026). Sebuah bongkahan beton kini menutup lubang berdiameter sekitar 20-30 sentimeter yang menjadi lokasi balita I alias O terperosok hingga meninggal dunia pada Sabtu, 27 Juni 2026 malam.

Tutup Lubang Bisa Dibuka Anak-Anak

Menurut Sudirman (42), warga RW 04 Manggarai, lokasi proyek selama ini menjadi tempat bermain anak-anak, termasuk anak kandungnya. "Kalau malam kan anak-anak saya juga pada main di sini, kayak arena bermainlah istilah kasarnya. Ada yang main pasir, ada yang main batu, pada wara-wiri anak kecil sini," kata Sudirman. Sebelum kejadian, Sudirman telah memperingatkan anaknya agar berhati-hati karena lubang tersebut hanya ditutup seng yang mudah dibuka anak-anak. "Lubangnya itu pas banget di samping trotoar itu. Nah pas di situ, jatuhlah," katanya.

7 Jam Upaya Penyelamatan

Peristiwa terjadi sekitar pukul 21.00 WIB, namun proses evakuasi baru selesai hampir pukul 04.00 WIB dini hari. "Itu kejadiannya kalau enggak salah dari jam 9 apa jam 9.30 gitu ya. Tapi itu evakuasinya bisa keangkatnya hampir jam 4 subuh," ujar Sudirman. Posisi korban sudah diketahui sejak awal, tetapi ukuran lubang yang sangat kecil menyulitkan penyelamatan. "Dari atas sudah kelihatan (balita jatuh), cuman karena dievakuasinya lubangnya terlalu kecil jadi sulit. Jadi kita mau enggak mau ambil pakai beko (ekskavator) dua biji," katanya. Dua unit ekskavator dari proyek terdekat dikerahkan untuk menggali sisi kanan dan kiri lubang hingga sejajar dengan titik korban. "Jadi diraup kanan kiri, terus lubangnya disejajarin sama lubang yang itu si anak. Pas sudah sejajar, baru digali pelan-pelan untuk narik anak itu. Sudah jadi terlalu makan waktu lama, lama banget sudah," ungkap dia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Teriakan Terakhir Korban

Sudirman masih mengingat suara korban sesaat setelah jatuh. "Kalau pas jatuhnya sih masih sadar, masih teriak-teriak," kata Sudirman. Kakak korban sempat mencoba masuk ke dalam lubang, tetapi gagal karena ruang terlalu sempit. "Anak kecil, abangnya sekali mau masuk pas pertengahan enggak muat. Jadi susah untuk dievakuasi, jadi Damkar saja bingung," ucap Sudirman. Sepanjang malam, lokasi dipenuhi warga dan petugas yang bergantian membantu evakuasi. "Wah enggak bisa ngomong apa-apa deh. Bapaknya sudah kejer-kejer kuda, emaknya sudah kejer-kejer sudah enggak bisa bayangin deh. Om-omnya aja sampai bilang kalau saya masuk bisa, masuk saya masuk saking dia pikirannya sudah ke mana-mana," ujarnya.

Evakuasi Rampung Jelang Subuh

Korban berhasil dievakuasi sekitar pukul 04.00 WIB dan langsung dibawa ke RSCM, namun nyawanya tidak tertolong. Warga tidak pernah mendapat pemberitahuan mengenai adanya lubang sedalam itu di area proyek. "Enggak ada pemberitahuan hati-hati, nggak ada. Kami juga nggak kepikiran ada lubang sedalam itu. Dipikir namanya lapangan futsal paling biasa saja, nggak seperti proyek yang membahayakan," tutur Sudirman. Kini, setelah lubang ditutup dan lokasi dipasangi garis polisi, Sudirman berharap tragedi serupa tidak terulang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga