Aiptu Syamsul Rela Kredit Ratusan Juta untuk Air Bersih Warga Muna, Dinominasikan Hoegeng Awards 2026
Sebuah kisah inspiratif datang dari Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, di mana seorang polisi bernama Aiptu Ahmad Syamsul menunjukkan dedikasi luar biasa dengan menghadirkan air bersih bagi masyarakat setempat. Upayanya yang tak kenal lelah bahkan membuatnya harus merogoh kocek pribadi dan meminjam kredit ke bank hingga ratusan juta rupiah. Atas kontribusinya ini, Aiptu Syamsul yang kini bertugas sebagai Kapolsub Sektor Tongkuno Selatan diusulkan dalam program prestisius Hoegeng Awards 2026, sebuah penghargaan bagi polisi teladan di Indonesia.
Pengabdian yang Dikenang Warga
Muhamad Natsir, mantan kepala desa dan pensiunan militer, menjadi salah satu saksi mata pengabdian Aiptu Syamsul. Natsir mengenal Syamsul sejak bertugas di Bone hingga akhirnya sama-sama pindah ke Muna. "Sejak itu saya berkenalan sampai sama-sama pindah di Sulawesi Tenggara, di Kabupaten Muna khususnya. Kemudian beliau, saat ini yang saya tahu dia lagi bertugas di Polsek Tongkuno dan punya karya, kalau saya tidak salah itu pernah dia bikin sumur bor," ujar Natsir kepada detikcom pada Kamis (5/3/2026).
Natsir menjelaskan bahwa inisiatif membangun sumur bor itu muncul karena warga kesulitan mendapatkan air bersih, bahkan harus menempuh jalan terjal untuk mengambil air. "Yang jelas air itu sekarang sudah digunakan dan alhamdulillah masyarakat di situ cukup senang karena mereka sudah tidak beli lagi air," tambahnya. Selain itu, Natsir menggambarkan Aiptu Syamsul sebagai sosok polisi yang ramah, bersahaja, dan aktif dalam kegiatan masyarakat, serta belum pernah memiliki cacat selama dikenalnya.
Dampak Positif bagi Masyarakat dan Citra Polri
Dedikasi Aiptu Syamsul tidak hanya membantu warga secara praktis, tetapi juga berperan dalam meningkatkan citra kepolisian di tingkat lokal. Natsir menegaskan, "Karena dia Polri bisa terangkat nama baiknya untuk tingkat Kecamatan Tongkuno." Kesaksian serupa disampaikan oleh Arman, pengurus Masjid Nurul Iman, yang mengungkapkan bahwa masyarakat sangat terbantu dengan adanya sumur bor tersebut. "Sebelumnya kan di masjid itu memang sudah ada sumur, sumur galian-galian biasa tapi biasa kalau musim kemarau karena kalau di daerah kami itu kemaraunya itu lumayan panjang, jadi berdampak juga," kata Arman.
Setelah sumur bor beroperasi, warga tidak lagi kesulitan air, bahkan saat musim kemarau melanda. Manfaatnya dirasakan tidak hanya oleh warga sekitar masjid, tetapi juga oleh pedagang dan pengunjung yang singgah. "Alhamdulillah selama ada sumur bor ini, alhamdulillah kami sudah tidak pernah lagi kekurangan," ujar Arman dengan penuh syukur.
Perjalanan Panjang Membangun Sumur Bor
Aiptu Syamsul sebenarnya telah menjadi kandidat dalam program Hoegeng Corner 2025, di mana ia menceritakan pengalamannya membuat tiga sumur bor di Muna. Pengabdiannya sebagai polisi dimulai sejak 1998 di Polda Sulsel, sebelum dimutasikan ke Polda Sultra pada 2009. Latar belakang aksinya adalah kondisi masyarakat yang kesulitan air bersih, seperti di Desa Oempu, Kecamatan Tongkuno, di mana warga harus pergi puluhan kilometer untuk membeli air.
Namun, upaya membangun sumur bor tidak selalu mulus. Syamsul mengungkapkan, "Perkiraan kami sebelum menggali 60 sampai 70 meter, ternyata kurang lebih 6 bulan (pekerjaan) kedalamannya kurang lebih 143 meter. Itu karena daerah bebatuan." Bertambahnya kedalaman ini berdampak pada biaya yang membengkak, mencapai sekitar Rp 350-400 juta untuk satu sumur, yang dibiayai dari tabungan dan pinjaman kredit bank. "Pertimbangan kami gini, saya berhenti sudah habis, jadi mendingan saya lanjut," tekadnya.
Setelah berbulan-bulan, air dari sumur bor pertama akhirnya bisa dimanfaatkan warga, menuai respons positif. Syamsul kemudian melanjutkan penggalian di daerah lain, meski sempat gagal karena alat mesin tertanam di lubang. Pada 2022, ia membantu masyarakat di Masjid Darul Falah, Desa Labasa, dengan sumur bor ketiga yang berhasil pada kedalaman 50 meter dan biaya sekitar Rp 30 juta. Titik keempat di Kelurahan Lawama pada 2025 juga berhasil dengan biaya serupa dan kedalaman 52 meter.
Total Biaya dan Niat Tulus Tanpa Pamrih
Secara keseluruhan, Aiptu Syamsul telah mengerjakan empat titik pengeboran, dengan tiga berhasil, menghabiskan total dana sekitar Rp 500-600 juta. Ia merekrut tukang bor profesional untuk pekerjaan ini, dengan kepercayaan penuh. "Saya tidak pernah menduga pekerjaan saya seperti ini, terutama masalah air ini," ujarnya.
Meski demikian, Syamsul enggan membicarakan biaya secara detail dan mengaku tidak pernah mengekspos kegiatan pengeboran sejak 2019, bahkan sering datang ke lokasi tanpa sepengetahuan warga. Ia menegaskan niatnya murni untuk membantu masyarakat tanpa harap imbal balik. "Tidak ada niat saya mau viral karena ini semata-mata buat saya ini sedekah untuk masyarakat apalagi tentang masalah kehidupan," kata Syamsul dengan rendah hati. Dedikasinya ini menjadi contoh nyata bagaimana seorang polisi bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya, layak dinominasikan dalam Hoegeng Awards 2026.



