Aipda Mariono, Polisi Penggerak Pendidikan di Pedalaman Riau Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026
Aipda Mariono Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026

Aipda Mariono, Polisi Penggerak Pendidikan di Pedalaman Riau Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026

Seorang anggota kepolisian di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Aipda Mariono, mendapatkan usulan dari warga setempat untuk penghargaan Hoegeng Awards 2026. Pengabdiannya dalam memajukan pendidikan anak-anak di daerah transmigrasi dan terpencil menjadi alasan utama pencalonan ini.

Inisiatif Pendidikan di Daerah Terpencil

Sebagai Bhabinkamtibmas Desa Sungai Langsat, Aipda Mariono telah menunjukkan kepedulian tinggi terhadap akses pendidikan. Pada tahun 2010, dia mendirikan kelas jauh sekolah dasar (SD) di Sawah Godang, Desa Logas, Kuansing, untuk mengatasi kesulitan anak-anak menjangkau sekolah utama yang berlokasi di perkebunan sawit.

"Anak-anak di situ kan memang jauh di kampung, akses di lokasi perkebunan (sawit) sehingga tidak mudah untuk menjangkau sekolah dasar utamanya, makanya Pak Mariono itu dia mendirikan kelas jauh sekolah yang ada di perkebunan itu," kata Juprison (42), warga Kuansing yang mengusulkan Mariono, seperti dikutip dari detikcom.

Kelas jauh ini menginduk ke SD Negeri 2 Logas dan awalnya hanya memiliki dua kelas dengan belasan siswa. Kini, fasilitas tersebut telah berkembang menjadi enam kelas lengkap dari kelas 1 hingga 6, dikelola secara mandiri oleh masyarakat dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dana Pribadi dan Penghargaan

Pembangunan kelas jauh SD ini dilakukan Aipda Mariono menggunakan dana pribadi sekitar Rp 15 juta, dengan bantuan gotong royong masyarakat. Lokasinya yang terpencil di pedalaman Kuansing membuat akses jalan masih berupa tanah dan sulit terutama saat musim hujan.

Atas kontribusinya, Mariono menerima penghargaan SATU Indonesia Award tingkat provinsi bidang pendidikan pada tahun 2017. "Tahun 2017 dari kelas jauh itulah saya mendapatkan SATU Indonesia Award tingkat provinsi bidang pendidikan. Waktu sudah berjalan lebih dari 5 tahun program itu, jadi saya dapat penghargaan," jelasnya.

Ekspansi ke Pendidikan Agama dan Olahraga

Tak berhenti di pendidikan formal, Aipda Mariono juga mendirikan pondok pesantren tahfiz di Desa Sungai Langsat pada tahun 2021, yang telah mendapatkan surat izin dari Kementerian Hukum dan HAM. Saat ini, pondok tersebut berfungsi sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) dengan 65 santri dari tingkat TK hingga SD.

"Belajar setelah salat asar, anak-anak kan umurnya masih sekolah dasar, dari TK sampai kelas 6 SD, nggak dibebani pembelajaran yang intens, enggak, yang penting dia menyenangi dengan Al-Qur'an," ujar Mariono.

Di bidang olahraga, dia membangun akademi voli dan lapangan voli untuk anak-anak setempat, dengan sekitar 30 anak bergabung secara gratis. "Saya punya akademi voli juga, jadi dia mencintai olahraga, terhindar dari yang namanya kenakalan remaja, otomatis menyangkut dengan tugas kepolisian kita, jadi tugasnya lebih ringan," tambahnya.

Dukungan Lingkungan dan Green Policing

Aipda Mariono juga aktif dalam program penghijauan dengan membangun bank pohon di lahan dekat pesantren sejak 2021, mendukung program Green Policing Polda Riau. Atas aksi ini, dia mendapatkan apresiasi dan hadiah umrah dari Kapolda Riau pada tahun 2025.

"Alhamdulillah tahun 2025 kemarin itu ada program Pak Kapolda kita terpilih dengan kegiatan yang 2021 kita rencanakan itu, kita nggak ada niatan dapat hadiah. Kita dapat hadiah umrah dari Pak Kapolda," pungkasnya.

Motivasi Pribadi dan Pengakuan Warga

Motivasi Mariono berasal dari pengalaman masa kecilnya yang tinggal di daerah transmigrasi dengan akses pendidikan terbatas. "Jadi memori waktu kecil itu mempengaruhi kita, saya (tinggal) di transmigrasi di Riau kan transnya jauh-jauh, waktu itu fasilitas untuk keagamaan jarang, jauh-jauh, jadi kadang kadang baca surat kadang-kadang lupa, saya kepengin anak-anak itu jangan sampai kayak kita," katanya.

Juprison, yang mengenal Mariono sejak 2009, memuji sikapnya yang merakyat dan tidak membeda-bedakan masyarakat. "Dia itu menyamaratakan pergaulan dengan masyarakat, tidak membeda-bedakan, baik itu orang kaya, orang miskin, atau petani atau pejabat sama aja di mata dia," ucap Juprison.

Dengan total biaya sekitar Rp 100 juta dari dana pribadi untuk membangun pesantren dan fasilitas olahraga, dedikasi Aipda Mariono menjadi contoh nyata peran polisi dalam memajukan masyarakat, terutama di daerah pedalaman.