Orang tua korban dugaan penganiayaan terhadap anak-anak di penitipan anak (daycare) Little Aresha menceritakan sadisnya perlakuan para pengasuh di daycare tersebut. Mereka mengibaratkan kejadian itu lebih sadis dari Kamp Guantanamo di Kuba.
Perbandingan dengan Kamp Guantanamo
Kamp Guantanamo adalah kamp tahanan yang didirikan tahun 2002 oleh Amerika Serikat di Kuba. Kamp ini merupakan penjara militer kontroversial untuk tersangka teroris dan dikritik keras karena dugaan penyiksaan. Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, dengan suara bergetar menyampaikan pengibaratan tersebut.
“Kita ya percaya saja kalau tempatnya luas dan yang bikin konyol kami itu kita nggak nanyakan di sana tuh sebenarnya sudah ada berapa anak,” terang Noorman usai pertemuan dengan Wali Kota Jogja, dilansir detikJogja, Senin (27/4/2026).
“Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya, anak yang usia bayi sampai balita tuh, wah luar biasa ternyata nggak manusiawi, kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini,” sambungnya.
Penggerebekan dan Video Kekerasan
Noorman sendiri menyusul ke lokasi saat proses penggerebekan kepolisian pada Jumat (24/7). Ia juga menyaksikan video penggerebekan tersebut. Noorman mengaku tak kuasa melihat video itu hingga selesai karena sangat mengerikan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebelumnya berharap daycare Little Aresha ditutup permanen buntut kasus kekerasan ini. Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan puluhan anak di bawah usia balita yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh pengasuh.
Orang tua korban mendesak pihak berwenang untuk menindak tegas para pelaku dan memastikan keadilan bagi anak-anak mereka. Mereka juga berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih selektif dalam memilih tempat penitipan anak.



