Orang Tua Sebut Daycare Little Aresha Lebih Sadis dari Guantanamo
Daycare Little Aresha: Lebih Sadis dari Guantanamo

Orang tua korban dugaan penganiayaan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha, Yogyakarta, mengungkapkan kengerian atas perlakuan para pengasuh. Bahkan, setelah melihat bukti video, mereka menyebut tindakan tersebut lebih kejam daripada kamp Guantanamo di Kuba.

Pengibatan dengan Kamp Guantanamo

Kamp Guantanamo adalah penjara militer kontroversial yang didirikan Amerika Serikat pada 2002 di Kuba, dikenal karena dugaan penyiksaan terhadap tahanan teroris. Perbandingan ini disampaikan oleh Noorman Windarto, salah satu orang tua korban, dengan suara bergetar saat menceritakan kondisi daycare dan perlakuan pengasuh terhadap anak-anak.

"Kita ya percaya saja kalau tempatnya luas dan yang bikin konyol kami itu kita nggak nanyakan di sana tuh sebenarnya sudah ada berapa anak," ujar Noorman setelah bertemu Wali Kota Jogja, Minggu (26/4/2026). "Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya, anak yang usia bayi sampai balita tuh, wah luar biasa ternyata nggak manusiawi, kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," sambungnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Noorman turut menyusul ke lokasi saat penggerebekan kepolisian pada Jumat (24/4) dan menyaksikan video penggerebekan. Ia mengaku tidak sanggup melihat video tersebut hingga selesai. Dalam rekaman yang diperlihatkan polisi, anak-anak diperlakukan sangat tidak manusiawi, termasuk anaknya sendiri. "Saya juga akhirnya trauma Mas, saya trauma di sini kalau lihat (video) itu pasti nangis saya. Jadi saya memutuskan ya sudahlah yang penting ini sudah jadi barang bukti, saya percayakan kepada polisi," imbuhnya.

Orang Tua Temui Wali Kota

Sejumlah orang tua korban mendatangi rumah dinas Wali Kota Jogja dan diterima langsung oleh Wali Kota Hasto Wardoyo. Pertemuan menghasilkan beberapa kesepakatan. Hasto menjelaskan bahwa fokus pertemuan adalah mendengarkan keluh kesah para orang tua, mencari solusi, dan menyepakati langkah bersama.

"Pada prinsipnya mereka minta perlindungan untuk anaknya dibantu, karena anak-anak ini sekarang dirasakan ada secara psikologis ada tanda-tanda yang kurang sehat," jelas Hasto. "Kita segera membentuk tim untuk mendampingi anaknya, tentu butuh psikologi anak, butuh ahli gizi anak, butuh ahli parenting."

Selain itu, orang tua juga mengalami stres dan keterkejutan, sehingga mereka membutuhkan pendampingan psikologis. Hasto juga menyebut pembahasan penyediaan tempat penitipan alternatif yang aman, mengingat para orang tua masih bekerja. "Besok pagi anaknya mau dititipkan kemana, ini suatu hal yang urgen dan emergency, karena mereka pada umumnya kerja. Kami segera mengidentifikasi daycare-daycare lainnya yang aman, amanah, baik, yang sehat," ujarnya.

Upaya pencegahan juga menjadi prioritas. Pemkot akan mendata seluruh daycare di wilayahnya dan melakukan sweeping. "Paling lama dua hari kita sudah tahu semua status daycare yang ada di kota Jogja. Tanpa izin itu jelas ilegal, harus segera ditutup. Pasti (langsung ditutup yang tidak berizin), salah satu syarat izin kan divisitasi," tegas Hasto.

Penggerebekan Polisi

Sebelumnya, polisi menggerebek Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Jogja, pada Jumat (24/4) terkait dugaan penganiayaan. Kasat Reskrim Polresta Jogja, Kompol Riski Adrian, mengatakan petugas melihat langsung perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak. "Benar pada tanggal 24 kemarin kita telah melakukan penggerebekan di mana itu tempat penitipan anak di mana petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi," katanya.

"Tapi memang secara kesimpulan memang itu tidak manusiawi. Karena ada juga yang kakinya diikat, tangannya diikat dan sebagainya. Secara umum seperti itu yang bisa saya jelaskan," sambungnya. Dari pemeriksaan sementara, total 53 anak menjadi korban, namun jumlah tersebut masih bisa bertambah seiring penyelidikan.

Informasi selengkapnya dapat disaksikan di program detikPagi Senin (27/4/2026) pukul 08.00-11.00 WIB di 20.detik.com, YouTube, dan TikTok detikcom.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga