Sebuah pulau di Pasifik kini berada di atas bom waktu nuklir yang berpotensi mencemari lautan selama berabad-abad. Para ilmuwan menemukan bahwa struktur beton yang dibangun untuk menampung limbah radioaktif dari era Perang Dingin mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Lokasi dan Kondisi Runit Dome
Lokasi tersebut dikenal sebagai Runit Dome, yang berada di Pulau Runit, atol Enewetak, di Marshall Islands, dikutip dari Metro (25/3/2026). Meski Pulau Runit sendiri tidak dapat dihuni, atol tersebut menjadi rumah bagi sekitar 300 orang. Struktur beton ini dibangun pada tahun 1970-an untuk menyimpan limbah radioaktif hasil uji coba nuklir Amerika Serikat selama Perang Dingin.
Ancaman Kerusakan Struktur
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa beton Runit Dome telah retak dan terkikis akibat cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut. Jika kerusakan terus berlanjut, limbah radioaktif dapat bocor ke lautan dan menyebabkan bencana lingkungan yang meluas. Para ahli memperingatkan bahwa dampaknya bisa dirasakan selama berabad-abad, mengancam ekosistem laut dan kesehatan masyarakat di wilayah Pasifik.
Upaya Penanganan
Pemerintah Marshall Islands dan komunitas internasional telah mendesak tindakan segera untuk memperbaiki Runit Dome. Namun, biaya perbaikan yang tinggi dan kompleksitas teknis menjadi tantangan utama. Beberapa proposal termasuk pembangunan struktur pelindung baru atau pemindahan limbah ke tempat yang lebih aman. Sementara itu, penduduk setempat hidup dalam kekhawatiran akan potensi kontaminasi radioaktif.
- Runit Dome menyimpan limbah dari uji coba nuklir AS antara tahun 1946 dan 1958.
- Struktur beton setebal 45 cm ini dirancang untuk bertahan 25.000 tahun, tetapi kini mulai retak.
- Naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim mempercepat kerusakan dome.
Para ilmuwan menekankan pentingnya pemantauan rutin dan tindakan mitigasi untuk mencegah bencana. Marshall Islands, yang terdiri dari 29 atol dan 5 pulau terisolasi, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan polusi radioaktif. Kerusakan Runit Dome menjadi pengingat akan warisan berbahaya dari perlombaan senjata nuklir.



