Perempuan Jadi Penentu Utama Ketahanan Iklim Indonesia, Bukan Hanya Teknologi
Perempuan Penentu Ketahanan Iklim Indonesia, Bukan Cuma Teknologi

Perempuan Dinilai sebagai Penentu Ketahanan Iklim di Indonesia, Melampaui Peran Teknologi

Keterlibatan perempuan dalam menjaga kelestarian hutan telah terbukti menjadi faktor krusial dalam memperkuat ketahanan terhadap krisis iklim. Hal ini menjadi benang merah utama dalam buku berjudul Echoes of Partnership yang diluncurkan oleh KONEKSI (the Australia–Indonesia Knowledge Partnership Platform) di Jakarta pada Jumat, 10 April 2026.

Peran Strategis Perempuan dalam Perlindungan Hutan

Buku tersebut merangkum hasil kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia, menunjukkan bahwa solusi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada inklusivitas kelompok rentan, terutama perempuan. Peneliti BRIN Lilis Mulyani menegaskan bahwa perempuan seringkali menjadi women champions di garda terdepan dalam melindungi hutan dari praktik pembalakan liar.

Dalam risetnya mengenai perhutanan sosial, Lilis menemukan perbedaan peran yang signifikan: perempuan cenderung lebih fokus pada penjagaan biodiversitas, sementara laki-laki lebih dominan pada aspek ekonomi. Meskipun regulasi telah memberikan ruang setara, praktik di lapangan masih perlu diperkuat. "Kami mendorong adanya kebijakan afirmatif, seperti penetapan target keterlibatan perempuan sebesar 20 hingga 30 persen dalam pengelolaan perhutanan sosial," ucap Lilis.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tantangan dan Upaya Adaptasi Perubahan Iklim

Selain isu gender, buku ini juga memaparkan keberhasilan riset Indonesia-Australia melalui Citarum Action Research Program (CARP). Tanvi Maheswari dari Monash University menjelaskan bahwa pemulihan Sungai Citarum dilakukan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang disesuaikan dengan karakteristik lokal, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga daur ulang berbasis komunitas.

Namun, upaya adaptasi ini masih menghadapi tantangan besar. Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, mengakui bahwa keterbatasan pendanaan dan koordinasi antarlembaga masih menjadi kendala utama dalam menjalankan kebijakan iklim secara efektif.

Kolaborasi Lintas Negara untuk Solusi Berkelanjutan

Peluncuran buku Echoes of Partnership merupakan bagian dari rangkaian menuju Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Summit yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 April 2026 mendatang. Melalui kolaborasi lintas negara ini, diharapkan solusi iklim yang dihasilkan dapat lebih berkelanjutan dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Buku ini juga mengingatkan bahwa tren pemanasan global dan perubahan iklim, seperti gelombang panas heatwave, semakin berisiko terjadi 30 kali lebih sering. Dengan dominasi monsun Australia, Indonesia memasuki musim kemarau, mempertegas urgensi aksi kolektif.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga