Kemenhut Gelar Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di CFD Jakarta
Kemenhut Peringati Hari Lahan Basah Sedunia di CFD Jakarta

Kemenhut Ajak Masyarakat Peringati Hari Lahan Basah Sedunia di CFD Jakarta

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut) menggelar peringatan Hari Lahan Basah Sedunia atau World Wetlands Day (WWD) dalam kegiatan Car Free Day (CFD) bersama masyarakat di Jakarta pada Minggu, 8 Februari 2026. Acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai peran strategis lahan basah dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mengendalikan perubahan iklim, serta melindungi masyarakat dari risiko bencana alam.

Kampanye Edukasi Lingkungan di Tengah Aktivitas CFD

Mengusung tema Rawat Tradisi Lahan Basah Lestari, peringatan ini menegaskan pentingnya penguatan kearifan lokal dan peran aktif masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lahan basah di Indonesia. Agenda dilakukan di tengah aktivitas olahraga masyarakat Jakarta dan sekitarnya, dengan rangkaian jalan sehat, kampanye edukasi lingkungan, pembagian bibit pohon gratis, serta berbagai aktivitas edukatif lainnya.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyatakan, lahan basah memiliki peran yang sangat penting untuk ekosistem hutan di Indonesia. "Lahan basah adalah ginjalnya bumi. Ibarat ginjal mereka bekerja secara senyap, mereka menyaring polusi atau pencemaran, melindungi pantai, dan mereka juga benteng pertahanan terhadap iklim, yang menyerap karbon lebih besar dibanding hutan tropis," ujar Rohmat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia menegaskan komitmen Kemenhut untuk berupaya semaksimal mungkin menjaga kelestarian lahan basah di Indonesia. "Ini adalah aset strategis yang harus kita jaga, kita lestarikan untuk pengendalian iklim dan perlindungan dari bencana," tuturnya. Beberapa aset lahan basah yang ada di Indonesia di antaranya hutan mangrove, gambut, dan rawa, serta delapan situs Ramsar yang telah diakui dunia.

Komitmen Indonesia dalam Pelestarian Lahan Basah

Melalui peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026 ini, Kemenhut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus peduli terhadap lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memperkuat kepedulian dan aksi nyata dalam menjaga lahan basah sebagai bagian penting dari upaya mitigasi perubahan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati, serta peningkatan kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Rohmat menekankan bahwa aksi kepedulian bukan hanya bermanfaat untuk saat ini tapi juga untuk nasib bumi di masa mendatang. "Mari kita pastikan bahwa lahan basah di Indonesia tetap menjadi warisan buat anak, cucu kita dan masa depan Indonesia," paparnya.

Sebagai informasi, data terakhir menunjukkan bahwa dari total 3,4 juta hektare luasan mangrove nasional, sebanyak 80% berada di dalam kawasan hutan. Sementara itu, untuk ekosistem rawa gambut, dari total luasan 20,7 juta hektare, sebesar 74% areanya terletak di dalam kawasan hutan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mitigasi krisis iklim sangat bergantung pada efektivitas tata kelola ekosistem lahan basah.

Konvensi Ramsar dan Situs Lahan Basah Indonesia

Konvensi Ramsar lahir pada 2 Februari 1971 di Iran atas kesepakatan masyarakat global. Konvensi ini merupakan perjanjian antarnegara tertua di bidang lingkungan hidup yang menekankan pada konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana (wise use). Selain itu, konvensi ini juga mewajibkan negara-negara anggotanya untuk menunjuk situs-situs lahan basah yang bernilai internasional dan menjamin kelestariannya.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Ramsar melalui Keputusan Presiden RI Nomor 48 Tahun 1991. Direktorat Jenderal KSDAE bertindak sebagai Otoritas Administratif (Administrative Authority) yang mengawal pelaksanaannya. Hingga tahun 2026, Indonesia telah mendaftarkan delapan Situs Ramsar dengan total luas lebih dari 1,3 juta hektar yang seluruhnya berada di Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA), yaitu:

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
  1. Taman Nasional Berbak (Jambi)
  2. Taman Nasional Sembilang (Sumatera Selatan)
  3. Suaka Margasatwa Pulau Rambut (DKI Jakarta)
  4. Taman Nasional Danau Sentarum (Kalimantan Barat)
  5. Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah)
  6. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (Sulawesi Tenggara)
  7. Taman Nasional Wasur (Papua Selatan)
  8. Taman Wisata Alam Menipo (Nusa Tenggara Timur)

Selain itu, prestasi tata kelola lahan basah perkotaan Indonesia juga diakui dunia lewat akreditasi Wetland City Accreditation yang diraih Kota Surabaya dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di CFD Jakarta ini menjadi momentum penting untuk terus mengedukasi masyarakat akan vitalnya peran ekosistem lahan basah bagi kehidupan berkelanjutan.