BMKG Prediksi Potensi Karhutla 2026 Mulai Meningkat di Bulan Juni
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun 2026. Berdasarkan analisis terkini, karhutla diprediksi mulai meningkat pada bulan Juni mendatang, seiring dengan musim kemarau yang diperkirakan akan lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kondisi Iklim 2026: Lebih Kering dengan Potensi El Nino
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Karhutla yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI di Jakarta pada Selasa (7/4/2026), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi iklim tahun 2026 berpotensi lebih kering. "Musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang," ujarnya.
Fathani menambahkan bahwa saat ini kondisi ENSO masih berada pada fase netral, namun pada semester kedua 2026 diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50-80 persen. Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering, sehingga meningkatkan risiko karhutla.
Peningkatan Titik Panas dan Wilayah Rawan Karhutla
Hingga awal April 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia tercatat mencapai 1.601 titik, angka yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Potensi karhutla diprediksi mulai meningkat di wilayah Riau pada bulan Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.
Peningkatan ini menandakan perlunya kesiapsiagaan nasional yang lebih intensif untuk mencegah bencana asap dan kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Langkah-Langkah Mitigasi yang Dilakukan BMKG
Sebagai upaya mitigasi dan pencegahan dini, BMKG telah menyiapkan beberapa langkah strategis yang akan diimplementasikan secara bertahap. Langkah-langkah ini dirancang untuk mengurangi dampak karhutla dan melindungi wilayah-wilayah rawan.
- Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan Metode Pembasahan Lahan (Rewetting)
- Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.
- Saat ini, operasi modifikasi cuaca tengah berlangsung di sejumlah wilayah prioritas dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Di Riau, operasi yang dimulai sejak 28 Maret 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 11 April 2026 telah menunjukkan hasil signifikan.
- Sementara itu, operasi di Natuna yang berlangsung pada 1-5 April 2026 juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan curah hujan.
- Pemantauan dan Prediksi Iklim Secara Berkala
- BMKG akan terus memantau perkembangan kondisi iklim dan memberikan update prediksi secara rutin untuk mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi.
- Pemanfaatan Sistem Fire Danger Rating System (FDRS)
- Sistem ini digunakan untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, pemantauan hotspot dan sebaran asap, serta prediksi potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan.
- Memperkuat Diseminasi Informasi Peringatan Dini
- BMKG akan meningkatkan penyebaran informasi peringatan dini kepada masyarakat dan pihak terkait, serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas operasi yang telah dilaksanakan.
Dengan langkah-langkah mitigasi ini, BMKG berharap dapat mengurangi risiko karhutla di tahun 2026 dan melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat dari dampak buruk kebakaran hutan dan lahan. Kesiapsiagaan dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan iklim ini.



