BMKG Peringatkan Fusi Kemarau dan El Nino Godzilla, Karhutla Mengancam Indonesia
BMKG Peringatkan Kemarau dan El Nino, Karhutla Mengancam

BMKG Peringatkan Fusi Kemarau dan El Nino Godzilla, Karhutla Mengancam Indonesia

Sejumlah wilayah di Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menanggulangi dimulainya 'musim' kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menyusul peringatan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemarau panjang serta fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat.

Potensi Bencana dari Kombinasi Iklim Ekstrem

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena iklim yang berbeda. Kemarau adalah siklus klimatologis tahunan, sementara El Nino adalah anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Namun, ketika kedua hal ini terjadi secara bersamaan, mereka dapat menjadi fusi yang berpotensi menimbulkan bencana karhutla skala besar.

"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis. Namun, jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," kata Fathani, seperti dikutip dari laporan detikKalimantan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Berdasarkan data BMKG, kondisi iklim pada tahun 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal. Sementara itu, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) pada semester pertama 2026 masih berada dalam fase netral, tetapi diprediksi akan berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua dengan peluang sekitar 50-80 persen.

Data Hotspot dan Antisipasi di Daerah

Data terbaru dari BMKG menunjukkan bahwa titik panas (hotspot) di Indonesia telah mencapai 1.601 sejak awal April 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, menandakan peningkatan risiko karhutla.

Di wilayah Sumatera, Pemerintah Kabupaten Muara Enim mulai memperhatikan potensi kebakaran hutan dan lahan. Meskipun belum menetapkan status siaga darurat karhutla, Bupati Muara Enim, Edison, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah upaya antisipatif.

"Status siaga darurat memang belum ditetapkan, tapi personel dan peralatan selalu kami siagakan untuk mengantisipasi karhutla," ujar Edison.

Hal serupa juga dilakukan oleh pemerintah wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. BMKG telah meminta para pemangku kepentingan untuk melakukan pencegahan dini, termasuk:

  • Rewetting atau pembasahan lahan gambut.
  • Pemanfaatan sistem Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran.
  • Pemantauan hotspot dan sebaran asap secara intensif.
  • Prediksi potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan.

Pentingnya Political Will dan Solusi Jangka Panjang

Akademisi Universitas Palangka Raya, Aswin Usup, menekankan bahwa penanganan karhutla harus dilatarbelakangi oleh political will atau kemauan politik yang kuat dari pemerintah. Ia mengkritik bahwa selama ini pemadaman api seringkali hanya bersifat reaktif, tanpa solusi pencegahan yang berkelanjutan.

"Tanpa bermaksud menyalahkan, saya melihat ada solusi yang tepat untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah," kata Usup. Ia menawarkan pendekatan yang lebih holistik, termasuk penguatan regulasi, edukasi masyarakat, dan penerapan teknologi dalam pemantauan dan pencegahan.

Dengan ancaman kemarau panjang dan El Nino yang semakin nyata, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mitigasi bencana karhutla. Langkah antisipasi dini dan kesiapsiagaan diharapkan dapat mengurangi dampak buruk yang mungkin timbul.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga