Aktivis Orang Utan Birute Galdikas Wafat, Menhut Kenang Dedikasinya di Kalteng
Birute Galdikas Wafat, Menhut Kenang Dedikasi Konservasi

Aktivis Orang Utan Birute Galdikas Wafat, Menhut Kenang Dedikasinya di Kalteng

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Aktivis Konservasi Orang Utan Dunia, Birute Mary Galdikas. Ia mengenang jasa besar Birute Galdikas yang menghabiskan puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk melestarikan habitat orang utan.

"Atas nama Kementerian Kehutanan, saya mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Bu Birute. Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalteng untuk konservasi habitat orang utan," kata Raja Juli dalam keterangan resmi pada Rabu (25/3/2026).

Jejak Kaki di Taman Nasional Tanjung Puting

Raja Juli melanjutkan, "Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah dan terjaga dengan orang utan yang membuat Anda berdecak kagum, tanpa terlihat Anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras dan berkomitmen tinggi. Selain itu, ada rumah tua dari kayu yang beliau dirikan di awal tahun 70-an." Pernyataan ini menegaskan dedikasi luar biasa Birute dalam upaya pelestarian alam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menteri Kehutanan juga berbagi kesan mendalam saat bertemu Birute Galdikas. Pertemuan itu terjadi di awal masa jabatannya, ketika ia membuka kembali ruang dialog dengan para pegiat konservasi setelah tertutup selama 8 tahun. Pembukaan diskusi ini disambut dengan haru oleh Birute, yang melihatnya sebagai langkah positif untuk kemajuan konservasi.

Pesan Terakhir dan Wasiat Pemakaman

Raja Juli mengungkapkan pesan terakhir dari Birute Galdikas terkait keinginannya dimakamkan di Indonesia. Wasiat tersebut disampaikan melalui putra Birute, Fred, yang menyebut ibunya ingin dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara sang suami.

"Mengingat suaminya dan kerja keras yang mereka lakukan selama ini, dan pintu Manggala terbuka kembali untuk berdiskusi, bercengkrama, bahkan menyampaikan kritik yang pedas sekalipun," ujarnya, menekankan pentingnya kolaborasi dalam konservasi.

Koordinasi untuk Pemulangan Jenazah

Untuk memenuhi wasiat Birute, Raja Juli telah berkoordinasi dengan sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri guna mempercepat proses pemulangan jenazah. Ia berharap seluruh proses dapat berjalan lancar dan segera terealisasi.

"Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan nomor telepon Konjen kita di Los Angeles dari Pak Umar Hadi, PTRI New York. Bahkan, saya mendapat pesan WhatsApp dari Pak Dubes kita di Washington DC, Pak Indroyono, yang memberitakan kepergian Ibu Birute. Kepada beliau saya titipkan pengurusan administrasi di KJRI Los Angeles. Semoga prosesnya cepat," ucap Raja Juli.

Dengan wafatnya Birute Galdikas, dunia kehilangan seorang pionir konservasi yang telah memberikan kontribusi tak ternilai bagi pelestarian orang utan dan hutan Kalimantan. Dedikasinya akan terus dikenang sebagai inspirasi bagi generasi mendatang dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga