8 Macan Tutul Jawa Teridentifikasi di TN Bromo Tengger Semeru
8 Macan Tutul Jawa Ditemukan di TN Bromo Tengger Semeru

Sebanyak delapan individu macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) berhasil teridentifikasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui survei tahap pertama yang dilakukan dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Temuan ini menjadi bagian dari program Java Wide Leopard Survey (JWLS) yang didukung oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia.

Komitmen BCA dalam Konservasi Macan Tutul Jawa

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa komitmen perusahaan terhadap keberadaan macan tutul Jawa bertujuan untuk menciptakan keseimbangan ekosistem hutan. "Terlebih, di Hari Macan Tutul Internasional, keberadaan salah satu spesies endemik pulau Jawa ini semakin berkurang dan dapat mempengaruhi stabilitas rantai kehidupan di hutan," ujarnya pada Selasa, 5 Mei 2026. Sejak 2024, kontribusi BCA memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data sekaligus mendukung pemerintah dalam pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia.

Hasil Survei Tahap Pertama

Hera merinci bahwa hingga Juli 2025, survei tahap pertama di TNBTS berhasil mengidentifikasi sedikitnya delapan individu macan tutul Jawa, terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan. Survei tahap kedua masih berlangsung pada 2026 untuk melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh. Program ini juga telah melatih 84 peserta dalam teknik survei menggunakan kamera pengintai dan 16 peserta dalam teknik manajemen dan analisis data kamera pengintai dari berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE dan BBKSDA Jawa Timur.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Habitat Macan Tutul Jawa Alami Perubahan

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, mengungkapkan bahwa habitat macan tutul Jawa telah mengalami perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir. "Dalam kondisi ini, macan tutul Jawa kerap terdorong keluar dari habitat alaminya, bahkan mendekati pemukiman warga," ucapnya. Menurut Hariyo, kebutuhan dasar macan tutul Jawa sederhana, antara lain habitat yang aman, cukup luas untuk wilayah jelajah, serta tetap terhubung antar kawasan. Di Pulau Jawa, memahami satwa liar bukan lagi sekadar pengetahuan, melainkan kebutuhan.

Pentingnya Data Populasi

Hariyo menambahkan bahwa keterbatasan data menjadi tantangan penting. Tanpa informasi akurat mengenai jumlah individu, struktur populasi, dan konektivitas habitat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, dukungan BCA dalam pendataan populasi menjadi penting sebagai dasar perencanaan konservasi jangka panjang.

Hidup Berdampingan dengan Macan Tutul

Di tingkat tapak, masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan memiliki pemahaman kuat tentang keseimbangan ini. Randi, warga Ranu Pani, melihat keberadaan macan tutul dari perspektif realistis sekaligus reflektif. "Macan tutul itu satwa liar, jadi nalurinya memang begitu, apalagi kalau dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke dekat kampung pasti ada sebabnya. Bisa jadi ekosistemnya sudah terganggu," katanya. Ia menekankan bahwa solusi utama bukan mengusir, melainkan menjaga habitat. "Kalau tempatnya aman, mereka tidak akan turun ke warga. Jadi sebenarnya bukan soal mengusir, tapi bagaimana kita sama-sama menjaga supaya manusia dan macan tutul bisa tetap hidup berdampingan," jelas Hariyo.

Hal senada disampaikan Petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Tuangkat. Dalam kearifan lokal, macan tutul bukanlah ancaman semata, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati. "Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, kalau hutan tetap lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman. Kuncinya sederhana yakni jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti yang sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu," tuturnya. "Di tengah tekanan yang terus meningkat terhadap ekosistem pulau Jawa, pesan yang muncul justru sederhana namun mendasar: konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi tentang menjaga relasi antara manusia dan alam," jelas Tuangkat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga