KNKT Investigasi Kecelakaan Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi
KNKT Investigasi Kecelakaan Argo Bromo di Bekasi

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan bahwa pihaknya masih melakukan investigasi mendalam terkait penyebab kecelakaan antara Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Proses investigasi ini diperkirakan akan selesai dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan.

Proses Investigasi yang Sedang Berlangsung

Soerjanto menyampaikan harapannya agar investigasi dapat berjalan lancar. "Kita berharap kalau semuanya lancar antara 2 sampai 3 bulan lah," ujarnya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Ia menambahkan, "Ya, mudah-mudahan bisa kita ambil kesimpulan."

Kronologi Menjelang Kecelakaan

Dalam kesempatan yang sama, Soerjanto juga memaparkan detik-detik sebelum KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Menurut KNKT, Pusat Pengendali (Pusdal) perjalanan kereta api di Manggarai sempat memberikan instruksi kepada masinis Argo Bromo untuk melakukan pengereman secara bertahap sebelum kecelakaan terjadi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman. Cuma karena situasinya di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya karena komunikasinya lewat suara saja, lewat voice, jadi kondisi lapangannya seperti apa dia nggak tahu," jelasnya.

Instruksi dari Pusdal

Soerjanto menyebutkan bahwa Pusdal di Manggarai memberi tahu masinis untuk melakukan pengereman sedikit-sedikit dan membunyikan semboyan 35 atau klakson. Masinis Argo Bromo pun mengikuti instruksi tersebut dengan seksama.

"Cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35. Nah itu aja yang disampaikan sehingga masinis sudah merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai," ungkapnya.

Analisis Awal KNKT

KNKT masih terus mendalami penyebab pasti kecelakaan kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL tersebut. Soerjanto menjelaskan bahwa instruksi dari Pusdal didasarkan pada asumsi positif thinking karena keterbatasan informasi kondisi lapangan.

"Ya karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa mereka belum tahu kondisi lapangan seperti apa. Maka dia positif thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan 35 atau memberi klakson lah," tuturnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga