Putri Eugenie Akhiri Patronase di Organisasi Anti-Perbudakan Tertua Dunia
Putri Eugenie, putri dari mantan Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson, telah resmi mengundurkan diri dari perannya sebagai patron organisasi hak asasi manusia Anti-Slavery International. Mundurnya sang putri dari posisi ini terjadi setelah ia menjabat selama tujuh tahun penuh, seperti yang dilaporkan oleh media Inggris The Observer.
Pernyataan Resmi dari Anti-Slavery International
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan kepada media, organisasi tersebut mengonfirmasi bahwa masa patronase Putri Eugenie telah berakhir. "Setelah tujuh tahun, patronase dari HRH Princess Eugenie of York telah berakhir. Kami berterima kasih atas dukungan sang putri terhadap Anti-Slavery International," tulis organisasi itu, seperti dikutip pada Senin, 9 Maret 2026.
Anti-Slavery International dikenal sebagai lembaga hak asasi manusia tertua di dunia yang secara konsisten berjuang melawan praktik perbudakan modern dan pelanggaran HAM lainnya. Selama masa jabatannya, Putri Eugenie aktif mendukung berbagai kampanye dan inisiatif organisasi ini, meskipun detail lebih lanjut tentang alasan pengunduran dirinya belum diungkapkan secara terbuka.
Dampak dan Reaksi Publik
Pengunduran diri ini menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan publik dan media, mengingat kontribusi sang putri dalam advokasi anti-perbudakan. Beberapa pihak mempertanyakan apakah langkah ini terkait dengan perubahan fokus pribadi atau dinamika internal organisasi. Namun, hingga saat ini, baik Putri Eugenie maupun Anti-Slavery International belum memberikan penjelasan lebih mendalam selain pernyataan terima kasih resmi.
Organisasi tersebut, yang didirikan pada tahun 1839, terus beroperasi dengan misi memberantas segala bentuk perbudakan di seluruh dunia. Mundurnya Putri Eugenie sebagai patron tidak mengubah komitmen lembaga ini, tetapi menandai akhir dari sebuah era dukungan kerajaan yang signifikan.



