Pigai Kritik Pernyataan Saiful Mujani: Perubahan Rezim Tak Secepat Kilat
Pigai Kritik Saiful Mujani: Perubahan Rezim Tak Cepat

Pigai Kritik Pernyataan Saiful Mujani: Perubahan Rezim Tak Secepat Kilat dan Guntur

Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, memberikan tanggapan tegas terhadap pernyataan pengamat politik Saiful Mujani yang mengangkat isu 'menjatuhkan Prabowo'. Pigai menilai pernyataan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan diibaratkan seperti berjalan tanpa arah yang jelas.

Pernyataan Dianggap Ngoceh Tanpa Pengalaman

Menurut Pigai, Saiful Mujani yang kini berusia 63 tahun termasuk dalam kategori aktivis era 80-an dengan karakter berbeda dibandingkan aktivis dari era 50-an hingga reformasi 90-an. "Beliau ini hanya ngoceh saja minta diperhatikan, tapi dia tidak punya pengalaman dalam gerakan perubahan, ibarat 'berjalan tanpa senter di malam hari'. Blind in the darkness," kata Pigai dalam keterangan tertulis pada Senin, 6 April 2026.

Pernyataan Saiful Mujani disampaikan dalam acara bertajuk 'Halal Bihalal: Sebelum Pengamat Ditertipkan' yang digelar di Komunitas Utan Kayu pada Rabu, 31 Maret lalu. Dalam kesempatan itu, Saiful hadir sebagai pengamat politik senior dan menyinggung peran rakyat dalam perubahan politik, termasuk merujuk pada peristiwa reformasi 1998.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pigai Tegaskan Kritik Harus Bertujuan Perbaikan

Pigai menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang sah selama bertujuan untuk perbaikan. Namun, ia mengingatkan agar tidak disertai niat untuk mengganti pemerintahan sebelum waktunya. Ia menyampaikan pengalamannya dalam reformasi 1999, di mana ia terlibat sebagai aktivis dalam berbagai organisasi seperti SMID, PRD, LMND, PMKRI, Senat Mahasiswa, serta sebagai Ketua Mahasiswa Papua Internasional.

"Untuk sampai ke reformasi 1999, kami sudah bekerja 5 tahun sebelumnya. Dari tahun 1994, muncul lagi 1996, puncaknya di 1997, gerakan masif 1998, di mana saya sendiri yang membakar Gejayan 98 (karena Moses Gatotkaca meninggal) yang sekarang terkenal dengan jargon 'Gejayan Memanggil', hingga reformasi baru bisa kami tuntaskan di tahun 1999. Tidak ada itu perubahan rezim seperti kilat dan guntur," tegas Pigai.

Kondisi Saat Ini Tak Mendukung Perubahan Cepat

Lebih lanjut, Pigai menilai kondisi saat ini tidak memungkinkan terjadinya perubahan rezim dalam waktu singkat. Ia menyoroti soliditas TNI dan Polri serta posisi Indonesia di mata dunia internasional. "Saya saksikan dengan mata kepala sendiri Sekjen PBB Gutierrez meminta Presiden Prabowo ikut andil menciptakan perdamaian dunia termasuk menjaga perdamaian kawasan. Dari sini Saya simpulkan bahwa circumstance-nya tidak memungkinkan untuk sebuah perubahan rezim, ya tidak akan mencapai target jangka pendek seperti yang Saiful Mujani sampaikan. Tunggu saja bertarung di tahun 2029," katanya.

Pigai juga memaparkan bahwa kondisi ekonomi menunjukkan tren positif, dengan Indeks Rasio Gini berada di angka 0,363, yang disebutnya sebagai yang terbaik dalam 15 tahun terakhir. "Hampir 50% APBN didistribusikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk program. Mayoritas rakyat mencintai Prabowo," tambahnya.

Kritik terhadap Pendekatan Pembangunan Lama

Selain itu, Pigai turut mengkritik pandangan Saiful Mujani yang dianggapnya menganut pendekatan pembangunan lama yang tidak berpihak pada rakyat. "Beliau mungkin aristokrat beraliran 'APBN untuk pembangunan gedung pencakar langit dihiasi lapisan emas, jembatan-jembatan tanpa sungai menghiasi kota-kota Metropolis. Janganlah menjadi ilmuwan yang menginginkan 'Pembangunan Tanpa Perasaan'," ungkapnya.

Ia mengingatkan Saiful Mujani untuk membaca dan merenungkan buku berjudul "PEMBANGUNAN TANPA PERASAAN: Evaluasi Pemenuhan Hak Ekonomi Sosial Budaya Orde Baru". "Baca buku ini dan renungkan dengan mata hati dan ucapkan dalam hati bahwa program-program pemerintah berjalan di jalan yang benar," pungkas Pigai.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga