KOMPAS.com - Sebuah peristiwa langka terjadi di Tanzania pada tahun 1962, ketika negara tersebut masih bernama Tanganyika. Saat itu, wabah atau epidemi tertawa melanda dan memengaruhi sekitar 1.000 orang. Awalnya, penyakit ini diderita oleh beberapa siswa perempuan di sebuah sekolah.
Penyebaran Wabah
Dikutip dari AtlasObscura, secara perlahan penyakit ini menyebar melampaui batas sekolah dan wilayah hingga menginfeksi populasi berisiko lainnya. Wabah ini tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga menjangkau masyarakat luas di sekitarnya.
Gejala yang Dialami
Gejala yang dialami para penderita termasuk serangan tertawa yang berulang. Serangan ini berlangsung dalam durasi yang bervariasi, mulai dari beberapa jam hingga 16 hari. Kondisi ini tentu sangat mengganggu aktivitas sehari-hari para penderitanya.
Fenomena ini menjadi salah satu kasus unik dalam sejarah medis dan epidemiologi. Hingga saat ini, penyebab pasti wabah tertawa tersebut masih menjadi misteri. Beberapa ahli menduga bahwa faktor psikologis dan histeria massal mungkin berperan dalam penyebarannya.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa penyakit tidak selalu disebabkan oleh virus atau bakteri, tetapi juga bisa dipicu oleh faktor sosial dan psikologis. Wabah tertawa di Tanganyika menjadi bahan kajian menarik bagi para peneliti di bidang kesehatan mental dan epidemiologi.



