Badan Kesehatan Masyarakat di Perancis melaporkan bahwa kematian akibat cuaca panas bertambah sekitar 1.000 orang pada pekan lalu, seiring dengan panas ekstrem yang memecahkan rekor di sejumlah negara Eropa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengeluarkan peringatan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan pemanasan paling cepat.
Rekor Suhu di Jerman dan Negara Lain
Sejumlah negara di Eropa telah mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. Jerman, misalnya, mencetak rekor baru selama tiga hari berturut-turut dengan suhu mencapai 41,7 derajat Celsius di Neibemunde, daerah dekat perbatasan dengan Polandia. Sebelumnya, rekor suhu tertinggi di Jerman adalah 40,5 derajat Celsius. Gelombang panas ini juga melanda Inggris, Perancis, Belanda, dan Belgia, yang semuanya mencatat suhu tertinggi baru.
Peringatan WHO tentang Pemanasan Cepat di Eropa
WHO menekankan bahwa Eropa mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan benua lain. Menurut data WHO, suhu di Eropa telah meningkat sekitar 2 derajat Celsius sejak era pra-industri, lebih tinggi dari rata-rata global. Peningkatan suhu ini memicu gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens, yang berdampak serius pada kesehatan masyarakat, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit kronis.
"Gelombang panas adalah ancaman kesehatan yang serius, dan kita melihat dampaknya langsung pada angka kematian," kata Dr. Hans Henri P. Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa negara-negara Eropa perlu memperkuat sistem peringatan dini dan rencana aksi panas untuk melindungi populasi rentan.
Dampak Kesehatan dan Langkah Mitigasi
Kematian akibat cuaca panas sering disebabkan oleh sengatan panas (heatstroke) dan dehidrasi, yang dapat memicu gagal ginjal, serangan jantung, dan gangguan pernapasan. Di Perancis, lonjakan kematian terjadi terutama di daerah perkotaan yang padat penduduk, di mana suhu terasa lebih panas akibat efek pulau panas perkotaan. Pemerintah setempat telah membuka pusat pendingin dan memberikan peringatan kepada warga untuk tetap terhidrasi dan menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Gelombang panas ini juga memicu kekhawatiran tentang ketahanan infrastruktur, seperti listrik dan transportasi. Di beberapa negara, rel kereta bengkok karena panas, dan lalu lintas udara terganggu karena landasan pacu meleleh. Krisis iklim semakin memperparah frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, dan para ilmuwan memperingatkan bahwa peristiwa seperti ini akan semakin sering terjadi jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikurangi.



