Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih di Eropa sejak 21 Juni 2026, bertepatan dengan gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu di berbagai wilayah. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa sekitar 150 juta orang saat ini hidup di bawah kondisi panas ekstrem, yang tidak hanya menyebabkan ratusan kematian tetapi juga memaksa penutupan sekolah dan menekan infrastruktur penting seperti jaringan listrik.
Dampak Mematikan di Prancis
Kementerian Kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan akibat gelombang panas sejak akhir Juni. Suhu puncak pada 23 Juni mendorong lonjakan kematian harian hingga lebih dari 1.400 kasus, jauh di atas rata-rata normal. Lansia menjadi kelompok paling terdampak, mencakup 85% korban. Kematian meningkat di rumah sakit, panti jompo, dan rumah, dengan lonjakan signifikan di rumah mencapai 40%. Wilayah berstatus peringatan merah mengalami dampak paling parah. Data tersebut masih bersifat sementara dan baru mencakup sekitar 60% laporan kematian nasional.
Rekor Suhu di Jerman, Polandia, dan Republik Ceko
Jerman mencatat rekor suhu 41,7 derajat Celsius pada 28 Juni di Coschen, Brandenburg, menurut Dinas Cuaca Jerman (DWD). Ini merupakan hari ketiga berturut-turut dengan rekor baru, setelah sebelumnya 41,5°C tercatat di Drewitz dan Bad Muskau. Polandia dan Republik Ceko juga mencatat suhu di atas 40°C pada hari yang sama. Desa Doksany, sekitar 50 km di utara Praha, mencapai 41,9°C, menurut Institut Meteorologi Ceko (CHMI). "Ini adalah pertama kalinya kami mencatat suhu 41 derajat dalam jaringan stasiun cuaca resmi kami," tulis CHMI di X. Rekor ini melampaui suhu 40,9°C yang tercatat sehari sebelumnya, dipicu oleh aliran udara panas dari barat daya.
Gangguan Transportasi di Leipzig
Layanan trem di Leipzig, Jerman timur, dihentikan hingga Senin pagi akibat suhu ekstrem yang menyebabkan aspal meleleh dan merusak rel serta titik percabangan. Otoritas Transportasi Leipzig (LVB) awalnya menangguhkan operasional hingga Sabtu malam, namun memperpanjang penghentian sepanjang akhir pekan. Kerusakan terjadi ketika bahan penyegel pada sambungan antara aspal dan beton mencair dan menggumpal. Layanan bus tetap beroperasi dan sebagian besar berjalan sesuai jadwal.
Perubahan Iklim sebagai Pemicu
Studi terbaru World Weather Attribution (WWA) menyebutkan bahwa gelombang panas ekstrem ini tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim. Kondisi panas saat ini hampir mustahil terjadi 50 tahun lalu, dan kini 200 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade sebelumnya. Hampir setengah dari 850 kota di 30 negara Eropa telah memecahkan atau berpotensi memecahkan rekor tingkat stres panas, indikator yang menggabungkan suhu dan kelembapan. Eropa, sebagai benua dengan pemanasan tercepat di dunia, dinilai belum siap menghadapi suhu ekstrem karena keterbatasan infrastruktur seperti minimnya pendingin udara. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kejadian serupa akan semakin sering terjadi dan menekankan perlunya adaptasi serta pengurangan emisi karbon.



