Banyak orang tidak memeriksa dengan detail kondisi cangkang saat membeli telur dalam jumlah cukup banyak. Akibatnya, mereka mendapatkan beberapa telur sudah retak sesampainya di rumah. Cangkang telur retak bisa disebabkan karena kesalahan dalam proses penyimpanan, atau akibat benturan saat proses membawanya pulang. Lantas, apakah telur yang cangkangnya sudah retak masih aman dimakan?
Penyebab Telur Retak
Telur retak sering terjadi akibat penanganan yang kurang hati-hati selama penyimpanan atau transportasi. Benturan keras, tumpukan terlalu tinggi, atau perubahan suhu drastis dapat menyebabkan cangkang retak. Selain itu, telur yang sudah tua juga memiliki cangkang lebih rapuh dan rentan retak.
Apakah Telur Retak Aman Dikonsumsi?
Jawabannya tergantung pada tingkat kerusakan dan lamanya retak terjadi. Jika retakan hanya kecil dan tidak sampai merusak selaput dalam, telur masih relatif aman asalkan segera diolah dengan pemanasan sempurna. Namun, jika retakan sudah lebar atau disertai kebocoran putih telur, risiko kontaminasi bakteri seperti Salmonella meningkat drastis.
Bakteri dapat masuk melalui celah retakan dan berkembang biak di dalam telur. Telur yang sudah retak lebih dari dua jam pada suhu ruang sebaiknya dibuang. Untuk mengurangi risiko, simpan telur di lemari pendingin dan konsumsi dalam waktu singkat setelah retak.
Tanda Telur Tidak Layak Konsumsi
- Retakan lebar atau berlubang
- Keluarnya cairan putih atau kuning telur
- Bau tidak sedap saat dibuka
- Tekstur telur encer atau menggumpal tidak normal
Tips Menghindari Telur Retak
- Periksa setiap butir telur saat membeli, pastikan tidak ada retakan.
- Gunakan wadah khusus telur saat membawa pulang.
- Simpan telur di lemari pendingin dengan posisi ujung tumpul di atas.
- Jangan mencuci telur sebelum disimpan karena dapat merusak lapisan pelindung.
Kesimpulannya, telur retak kecil masih aman jika segera dimasak hingga matang. Namun, untuk keamanan maksimal, sebaiknya pilih telur utuh dan hindari membeli telur yang sudah retak.



