KOMPAS.com - Seiring bertambahnya usia, sebagian pria dapat kehilangan kromosom Y dalam sejumlah sel tubuh mereka. Selama puluhan tahun, hilangnya kromosom Y pada pria lanjut usia dianggap sebagai penanda alami penuaan yang tidak berbahaya.
Penelitian Terbaru Ungkap Risiko Serius
Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa kondisi tersebut bisa berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari kanker hingga penyakit jantung. Dilansir dari ScienceAlert, Jumat (13/6/2026), para peneliti menemukan bahwa kehilangan kromosom Y pada sebagian sel tubuh pria dapat berdampak pada fungsi sistem kekebalan tubuh dan kesehatan secara keseluruhan.
Kehilangan kromosom Y, yang dikenal sebagai loss of Y chromosome (LOY), telah lama diamati pada pria yang menua. Namun, dampaknya terhadap kesehatan masih diperdebatkan. Studi terbaru ini memberikan bukti bahwa LOY bukan sekadar efek samping penuaan, melainkan faktor yang secara aktif berkontribusi terhadap perkembangan penyakit.
Hubungan dengan Kanker dan Penyakit Jantung
Penelitian menunjukkan bahwa pria dengan LOY memiliki risiko lebih tinggi terkena beberapa jenis kanker, termasuk kanker kandung kemih dan kanker prostat. Selain itu, risiko penyakit jantung juga meningkat secara signifikan. Para ilmuwan menduga bahwa hilangnya kromosom Y mengganggu regulasi gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel dan respons imun.
Sistem kekebalan tubuh yang terganggu akibat LOY dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit kronis. Penemuan ini membuka jalan baru untuk penelitian tentang pencegahan dan pengobatan penyakit terkait penuaan pada pria.
Implikasi untuk Kesehatan Pria
Temuan ini menekankan pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin pada pria lanjut usia. Dengan memahami risiko yang terkait dengan LOY, dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat untuk skrining kanker dan penyakit jantung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan strategi intervensi yang dapat mengurangi dampak negatif dari kehilangan kromosom Y.



