Perjuangan Mbah Kibar, Pelukis 76 Tahun di Sleman Lunasi Utang Rp 500 Juta
Suhardiyono Kibar, seorang seniman yang akrab disapa Mbah Kibar, kini berusia 76 tahun dan tengah menghadapi perjuangan berat untuk melunasi utang sebesar Rp 500 juta. Berdasarkan laporan dari detikJogja pada Minggu, 19 April 2026, Mbah Kibar terjerat utang dalam jumlah tersebut atas namanya, yang mengancam tanah warisan keluarganya untuk disita oleh bank.
Menolak Mengemis dan Tetap Berkarya
Dalam wawancara di rumah joglo daerah Ngemplak, Sleman, pada Selasa, 14 April 2026, Mbah Kibar dengan tegas menyatakan bahwa ia menolak untuk mengemis atau menerima donasi. "Saya profesional saja. Saya nggak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis," ujarnya dengan penuh semangat. Selama puluhan tahun, ia telah menghidupi keluarganya dari hasil penjualan lukisan, dengan beberapa karyanya bahkan dipamerkan, termasuk pameran tunggal dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi Rumah dan Tempat Tinggal Baru
Selain beban utang yang besar, Mbah Kibar juga menghadapi masalah dengan rumah lamanya di wilayah Banguntapan, yang mengalami kerusakan parah hingga ambruk. "Rumah saya ambruk, rusak berat. Kalau hujan itu ngeri," kenangnya. Namun, kini ia merasa lebih tenang karena telah pindah ke rumah baru yang layak, sekaligus menyediakan ruang untuk terus berkarya. Di rumah joglo barunya ini, ia juga difasilitasi dengan baik untuk melanjutkan aktivitas melukisnya.
Dampak Utang dan Ancaman Sita Tanah
Utang sebesar Rp 400-500 juta yang membebani Mbah Kibar tidak hanya mempengaruhi kehidupannya sehari-hari, tetapi juga mengancam aset berharga berupa tanah warisan keluarga. Jika utang ini tidak dilunasi, bank berpotensi untuk menyita tanah tersebut, yang akan menambah beban bagi seniman senior ini. Meskipun demikian, Mbah Kibar tetap optimis dan berkomitmen untuk menyelesaikan kewajibannya melalui karya seninya.
Perjuangan Mbah Kibar ini menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan keteguhan hati dan profesionalisme dalam menghadapi tantangan finansial. Dengan semangat yang tak pernah padam, ia terus melukis dan berharap dapat segera melunasi utangnya, sambil menjaga warisan seni dan keluarganya tetap utuh.



