Buzer Bukan Fenomena Baru, Jejaknya Sudah Ada Sejak Zaman Kaisar Nero
Buzer Bukan Fenomena Baru, Jejaknya Sejak Kaisar Nero

Buzer Bukan Fenomena Modern, Akarnya Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Romawi Kuno

Istilah buzer seringkali dianggap sebagai produk era digital dan media sosial kontemporer. Namun, kenyataannya, profesi yang melibatkan pembentukan opini publik dengan cara yang terorganisir ini memiliki jejak historis yang sangat panjang. Fenomena serupa ternyata sudah dipraktikkan berabad-abad lalu, bahkan dapat ditelusuri kembali ke masa kekuasaan Kaisar Nero pada abad pertama Masehi.

Nero: Standar Kejahatan dan Penggemar Seni yang Obsesif

Sebelum nama Adolf Hitler menjadi simbol kekejaman dalam sejarah modern, Kaisar Nero telah lama memegang gelar sebagai epitome kejahatan dalam ingatan kolektif masyarakat Barat. Nero yang memerintah dari tahun 54 hingga 68 Masehi dikenal tidak hanya karena kekejamannya, tetapi juga karena obsesinya yang mendalam terhadap dunia seni pertunjukan.

Beberapa sejarawan ternama Romawi, seperti Suetonius dalam karyanya De Vita Caesarum, Tacitus melalui Annales, dan Cassius Dio dalam Romaike Historia, secara rinci mendokumentasikan kegilaan Nero terhadap puisi, nyanyian, dan permainan alat musik di depan publik. Kaisar ini kerap tampil dalam pertunjukan yang berlangsung sangat lama, bahkan berjam-jam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Praktik Pemaksaan Loyalitas dan Antusiasme Palsu

Yang menarik dari catatan sejarah ini adalah bagaimana Nero memanfaatkan posisinya untuk menciptakan penonton yang antusias secara paksa. Dia mewajibkan para bawahannya dan orang-orang di istana untuk menghadiri setiap pertunjukannya dari awal hingga akhir. Kehadiran ini bukan sekadar formalitas, melainkan dijadikan sebagai bukti loyalitas mutlak kepada sang kaisar.

Lebih dari itu, para penonton ini dipaksa untuk menunjukkan reaksi antusias selama pertunjukan berlangsung. Mereka harus bertepuk tangan, bersorak, dan memuji penampilan Nero, terlepas dari kualitas sebenarnya atau kelelahan yang mereka rasakan. Praktik ini sangat mirip dengan fungsi buzzer modern yang bertugas menciptakan kesan popularitas, dukungan, atau tren tertentu melalui ekspresi yang seringkali tidak otentik.

Dengan demikian, meskipun teknologi dan medianya berbeda, esensi dari manipulasi persepsi publik melalui kelompok yang diarahkan sudah ada sejak era klasik. Nero menggunakan kekuasaannya untuk memastikan bahwa narasi tentang bakat seninya terdengar positif dan didukung, sebuah taktik yang pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan cara kerja buzzer di dunia maya saat ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga