Pipik Dian Irawati, yang lebih dikenal sebagai Umi Pipik, tidak dapat menahan air matanya saat mengingat kembali momen tragis yang terjadi pada tahun 2014. Rumah tempat tinggalnya hangus terbakar hanya setahun setelah suaminya, Ustaz Jefri Al Buchori atau Uje, meninggal dunia. Kejadian ini meninggalkan luka mendalam dalam ingatan istri dari pendakwah ternama tersebut.
Malam Penuh Kepanikan dan Asap Tebal
Umi Pipik menceritakan pengalaman mencekam itu dalam sebuah episode C8 Podcast. Ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena merasakan suhu panas yang luar biasa, meskipun pendingin ruangan di kamarnya dalam kondisi menyala. Perasaan tidak biasa itu membuatnya segera bangun dan memeriksa keadaan di luar kamar.
"Saya bangun, saya buka pintu kamar saya, di depan api semua, asap," ungkap Umi Pipik dengan suara bergetar. Saat itu, situasi benar-benar kacau dan penuh kepanikan. Api sudah menjalar dengan cepat, memenuhi ruangan dengan asap tebal yang menyulitkan pernapasan.
Anak-Anak yang Masih Tertidur Pulas
Yang membuat momen itu semakin mencekam adalah kondisi anak-anaknya yang masih tertidur pulas di kamar masing-masing. Pada saat kejadian, semua anak Umi Pipik dan Uje masih berusia sangat muda. Abidzar, putra sulung mereka, baru berusia 11 tahun saat itu.
"(Anak-anak) tidur, semua masih kecil-kecil, Abidzar masih 11 tahun," jelas Umi Pipik dengan nada khawatir. Bayangan harus menyelamatkan anak-anak dari kobaran api menjadi beban berat yang harus dipikulnya sendirian di tengah malam buta.
Kejadian kebakaran ini terjadi dalam periode yang sangat sulit bagi keluarga tersebut. Setahun sebelumnya, mereka baru saja kehilangan sang suami dan ayah, Ustaz Jefri Al Buchori, yang meninggal dunia pada tahun 2013. Trauma kehilangan belum sepenuhnya pulih ketika musibah kebakaran datang menerpa.
Meskipun telah bertahun-tahun berlalu, ingatan tentang malam itu tetap hidup dalam benak Umi Pipik. Setiap kali mengingatnya, emosi dan kesedihan masih terasa sangat nyata. Kisah ini menjadi pengingat betapa berat perjalanan hidup yang harus dilalui oleh keluarga Uje setelah kepergiannya.
