Ahmad Tohari Ungkap Simpati pada Korban 1965, Bukan pada Paham Komunisme
Ahmad Tohari: Simpati pada Korban 1965, Bukan Komunisme

Ahmad Tohari Buka Suara Soal Simpati pada Korban Tragedi 1965

Sastrawan ternama Indonesia, Ahmad Tohari, secara terbuka mengungkapkan perasaan simpatinya terhadap korban pembantaian yang terjadi pasca-peristiwa 30 September 1965. Pernyataan ini ia sampaikan ketika ditanya mengenai alasan di balik penulisan novel fenomenalnya, Ronggeng Dukuh Paruk.

Pengalaman Langsung yang Membekas

Tohari, yang lahir dan besar di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyaksikan secara langsung rangkaian kekerasan yang berlangsung sepanjang tahun 1965 hingga 1966. Dalam ingatannya, masih sangat jelas tergambar momen-momen di mana sejumlah orang yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dihabisi nyawanya di hadapan publik.

"Saya itu sering melihat orang-orang PKI ditembak di depan umum. Tentu saja saya jadi simpati kepada orangnya, kepada manusianya. Bukan simpati kepada paham. Saya tidak simpati pada paham komunisme," tegas Tohari, membedakan antara empati pada korban sebagai manusia dengan dukungan terhadap ideologi tertentu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Konteks Kekerasan yang Dihadirkan

Ia menggambarkan bagaimana saat itu, tentara mengundang warga desa untuk menyaksikan eksekusi-eksekusi yang berlangsung secara terbuka. Adegan-adegan tragis dan penuh kekerasan tersebut meninggalkan luka mendalam dalam benaknya, yang kemudian turut memengaruhi karya sastranya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, sering kali dibaca sebagai refleksi atas masa kelam tersebut, meskipun Tohari sendiri menekankan bahwa simpatinya tertuju pada nasib manusia yang menjadi korban, bukan pada paham politik yang dianutnya.

Pengakuan ini mengingatkan kembali pada kompleksitas sejarah Indonesia pasca-1965, di mana banyak korban berjatuhan dalam gelombang kekerasan yang melanda berbagai daerah. Tohari, melalui kesaksiannya, menyoroti sisi kemanusiaan yang sering terabaikan dalam narasi-narasi politik yang lebih besar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga