KOMPAS.com - Di tengah geliat perkembangan seni wastra Indonesia yang terus hidup dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman, sebagian besar perajin masih berfokus pada aspek estetika, tradisi, dan pelestarian motif. Namun, tidak banyak yang melangkah lebih jauh dengan menghadirkan inovasi yang menyentuh fungsi keseharian. Hal inilah yang dilakukan oleh Titi Permata dari Komunitas Soramata, Salatiga.
Pameran di Pasar Tegalan
Dalam sebuah pameran komunitas yang digelar di Pasar Tegalan, Tegalombo, Blotongan Salatiga pada Jumat (5/6/2026) hingga Minggu (7/6/2026), Titi Permata memperkenalkan batik dengan kemampuan perlindungan terhadap sinar ultraviolet (UV). Inovasi ini menjadi sorotan karena menggabungkan nilai seni tradisional dengan fungsi kesehatan yang relevan di era modern.
Latar Belakang Inovasi
Menurut Titi, ide pengembangan batik pelindung UV berawal dari keprihatinan terhadap dampak sinar matahari yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim. “Kami ingin batik tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pemakainya, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Proses pembuatan batik ini melibatkan teknik khusus dengan menambahkan zat penyerap UV pada pewarna alami. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kain batik ini mampu memblokir hingga 95% sinar UV-A dan UV-B, setara dengan tabir surya SPF 50+.
Respon Positif Pengunjung
Selama pameran berlangsung, batik pelindung UV mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Banyak yang tertarik dengan konsep wastra fungsional ini. “Saya senang ada inovasi yang membuat batik lebih berguna sehari-hari. Apalagi untuk anak-anak yang sering bermain di luar,” kata salah satu pengunjung, Sari.
Komunitas Soramata berencana untuk memproduksi batik ini secara terbatas dan bekerja sama dengan perajin lokal di Salatiga. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan desainer untuk mengembangkan motif yang lebih beragam.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perajin wastra lainnya untuk terus berkreasi tanpa meninggalkan akar tradisi. Batik bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang bisa terus relevan dan bermanfaat.



