The Little Giantz Jawab Tudingan Soal Karakter Umma di Animasi Nussa Rara
Jawaban The Little Giantz Soal Karakter Umma di Nussa Rara

The Little Giantz Jawab Tudingan Soal Karakter Umma di Animasi Nussa Rara

Aditya Triantoro, salah satu pendiri studio animasi The Little Giantz, memberikan klarifikasi menanggapi tudingan yang beredar mengenai karakter Umma dalam serial animasi populer Nussa Rara. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa proses pembuatan animasi merupakan hasil kolaborasi tim yang melibatkan ratusan orang, bukan hanya satu individu saja.

Produksi Animasi sebagai Kerja Tim yang Kompleks

"Kartun atau pun animasi Nussa ini dibangun oleh ratusan orang. Bukan aku sendiri," ujar Aditya Triantoro dalam acara Curhat Bang Denny Sumargo. Pernyataan ini ia sampaikan untuk menggarisbawahi bahwa setiap aspek produksi, mulai dari desain hingga rendering, melibatkan berbagai divisi dengan peran spesifik.

Ia melanjutkan, "Memang kita ada pendiri tiga, cuma kan tim banyak ya. Ada tim desain, tim lighting, animasi dan render. Tim desain ini lah yang mendesain. Terutama chief creative officer-nya yang ng-approve semuanya." Hal ini menunjukkan bahwa keputusan kreatif, termasuk desain karakter seperti Umma, melalui proses persetujuan hierarkis yang ketat.

Struktur Tim dan Proses Kreatif yang Terstruktur

Aditya menjelaskan bahwa The Little Giantz memiliki struktur tim yang terorganisir, dengan tiga pendiri sebagai pengawas utama. Namun, eksekusi teknis dan artistik dilakukan oleh berbagai tim, seperti:

  • Tim desain yang bertanggung jawab atas konsep visual karakter dan latar.
  • Tim animasi yang menghidupkan gerakan dan ekspresi.
  • Tim lighting dan render yang mengatur pencahayaan dan penyelesaian grafis.

Proses ini memastikan bahwa setiap elemen, termasuk karakter Umma, dikembangkan secara kolektif dengan pengawasan dari chief creative officer yang memiliki wewenang akhir untuk persetujuan. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kualitas dan konsistensi dalam serial Nussa Rara yang telah meraih popularitas luas di Indonesia.

Dengan penjelasan ini, Aditya Triantoro berharap publik memahami bahwa animasi bukanlah karya tunggal, melainkan hasil sinergi banyak pihak yang berkontribusi dalam setiap tahap produksi.