Hoegeng Awards 2026: Tiga Kandidat Polisi Tapal Batas dan Pedalaman
Hoegeng Awards 2026: 3 Kandidat Polisi Tapal Batas

Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 telah memilih tiga besar kandidat Polisi Tapal Batas dan Pedalaman. Ketiga polisi teladan ini dinilai memiliki dedikasi tinggi dan aksi yang berdampak positif di wilayah pedalaman dan perbatasan Indonesia.

Proses Pemilihan Tiga Besar

Pemilihan tiga besar kandidat Polisi Tapal Batas dan Pedalaman Hoegeng Awards 2026 ditentukan dalam rapat Dewan Pakar yang digelar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Rabu, 6 Mei 2026. Dalam rapat yang berlangsung dinamis, Dewan Pakar memutuskan tiga besar kandidat sebagai berikut:

  • Iptu Bastian Tuhuteru (Kapolsek Leksula, Buru Selatan, Maluku)
  • Ipda Motalip Litiloly (Kasat Samapta Polres Nduga, Polda Papua)
  • Bripka Hamzah Ladema (Bhabinkamtibmas Desa Sonit, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah)

Adapun Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 terdiri dari Ketua Komisi III DPR Dr. Habiburokhman, S.H., M.H., Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, S.Psi., MM, Mantan Plt Pimpinan KPK Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., dan anggota Kompolnas Gufron Mabruri.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Partisipasi Publik

Sejak Kamis, 7 Mei 2026, pembaca detikcom dan masyarakat dapat memberikan informasi tambahan mengenai kandidat Hoegeng Awards 2026. Redaksi menjamin kerahasiaan identitas pengirim. Masukan dan informasi dapat dikirim ke email hoegengawards@detik.com dengan subjek Hoegeng Awards 2026 serta menyertakan dokumen atau data pendukung. Jangan lupa mencantumkan nama dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Panitia dan Dewan Pakar tidak menerima segala bentuk penggalangan dukungan dalam uji publik Hoegeng Awards 2026.

Profil Tiga Kandidat

1. Iptu Bastian Tuhuteru

Saat ini, Bastian menjabat sebagai Kapolsek Leksula, Polres Buru Selatan, Polda Maluku. Kiprahnya dimulai pada tahun 2016 saat masih menjadi Bhabinkamtibmas. Ia mendedikasikan diri untuk mencerdaskan masyarakat adat di Dusun Walafau, Kabupaten Buru Selatan, yang sebelumnya belum tersentuh pendidikan. Iptu Bastian menjadi guru yang mengajarkan baca tulis hitung (calistung) kepada anak-anak di pelosok Maluku. Perjuangan konsisten dan penuh ketulusan selama tiga tahun akhirnya membuahkan hasil hingga pemerintah daerah setempat membangun SD negeri untuk membuka akses pendidikan. Perjuangannya tidak mudah; Bastian harus menempuh medan jalan yang sulit dan kadang menyeberangi sungai. Awalnya ia mengajar di sebuah tenda sederhana yang sering bocor. Atas dedikasinya, Bastian mendapatkan tiket sekolah perwira pada 2019 yang kemudian mengantarkannya menjadi Kapolsek Waesama. Pengabdiannya berlanjut dengan memerintahkan Bhabinkamtibmas untuk mengajar di daerah pedalaman. Iptu Bastian juga menerima penghargaan dua kali dari Kapolri, yaitu peringkat 1 polisi teladan tingkat nasional tahun 2019 dan polisi pengajar tahun 2019, serta penghargaan dari Kapolda Maluku dan Kapolres Buru Selatan.

2. Ipda Motalip Litiloly

Ipda Motalip adalah Kasat Samapta Polres Nduga, Polda Papua. Ia dekat dengan masyarakat Nduga hingga mampu meredam konflik di sana. Kedekatannya membuat warga dua kali berdemo ketika Motalip dimutasi ke wilayah lain, sehingga akhirnya ia dikembalikan bertugas di Polres Nduga. Tugasnya di Nduga berawal pada 2012 saat diminta Bupati Nduga dan Kapolres Wamena untuk mengamankan kisruh buntut meninggalnya anggota DPRD Paulina Ubruange. Dengan pendekatan humanis, Motalip berhasil meredam konflik yang berpotensi berkepanjangan. Ia menemukan bahwa kehadiran aparat di Nduga ditakuti warga setempat karena trauma masa lalu. Motalip pun memutuskan menyimpan senjatanya dan sehari-hari menggunakan pakaian preman saat bertemu masyarakat, hanya berseragam polisi ketika ada masalah kamtibmas. Perlahan masyarakat mulai terbuka dan menerima kehadirannya. Masyarakat Nduga yang mayoritas Nasrani bahkan menyapanya dengan panggilan akrab 'Pak Salib' yang dianggap sebagai pelindung.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

3. Bripka Hamzah Ladema

Bripka Hamzah adalah Bhabinkamtibmas Desa Sonit, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Ia telah mengabdikan diri selama 15 tahun di pulau terdepan Banggai Laut. Di tengah keterbatasan, Hamzah berupaya meningkatkan taraf hidup warga melalui pembinaan ibu-ibu budidaya rumput laut dan membantu anak-anak SD. Penugasannya di Desa Sonit dimulai sekitar 2009 untuk meredam potensi konflik terkait isu perubahan wilayah. Dengan pendekatan persuasif, ia berhasil menjaga keamanan dan ketertiban. Kepercayaan masyarakat begitu besar hingga warga meminta agar ia tetap ditempatkan di desa tersebut. Hamzah tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga aktif memberdayakan ekonomi, mendorong ibu-ibu membudidayakan rumput laut, dan membantu pemasaran hasil panen ke daerah lain. Di bidang pendidikan, ia rutin mengunjungi sekolah, membantu kebutuhan yang kurang, dan memberikan motivasi kepada anak-anak agar tetap semangat belajar.