Matahari sudah tenggelam saat detikcom menyambangi konter BRILink Nono Sutisno di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Meski hari mulai malam, pelanggan masih berdatangan untuk melakukan transaksi di kios milik pria berumur 43 tahun tersebut.
Lokasi konter yang berada di kawasan strategis dekat pusat industri di Cikarang membuat layanan BRILink benar-benar dimanfaatkan warga, terutama para pekerja. Selain itu, faktor keramahan Nono dalam melayani warga membuat mereka terus menjadi pelanggan setia di konter tersebut.
Perjuangan Panjang Sejak 2018
Di balik usaha BRILink yang kini berkembang itu, ada perjuangan panjang yang dilalui Nono sejak delapan tahun lalu. Ia bergabung sejak 2018 berawal dari kebiasaannya mengirimkan uang untuk adiknya yang sedang kuliah di luar daerah.
Ia merasakan harus mengantre lama ketika pergi ke bank. Waktunya tersita banyak. Sampai akhirnya ia menonton televisi mengenai iklan salah satu layanan transaksi keuangan yang lebih mudah. Akhirnya ia berpikir kalau dirinya mempunyai mesin EDC pasti akan lebih mudah jika ingin mengirimkan uang ke adiknya di luar Bekasi.
Karena ketertarikannya itu, Nono langsung pergi ke kantor BRI untuk menanyakan caranya menjadi agen BRILink. Barulah setelah melengkapi persyaratan pendaftaran, ia resmi bergabung menjadi Agen BRILink dan mendapatkan mesin EDC. Modal awal yang digunakan Nono untuk memulai usaha itu hanya Rp 3 juta. Seiring berjalannya waktu, ia pun sadar bahwa untuk melakukan transaksi yang besar, maka modal yang dibutuhkan pun juga besar.
"Awal saya gabung juga itu di rekening saya modal cuman ada Rp 3 juta. Terang-terangan cuman ada Rp 3 juta pas. Belum kepikiran gitu untuk berapa berapa ke sananya. Eh, ke sini ke sini makin banyak transaksi ternyata modal di atas 50 juta itu masih kurang," kata Nono saat ditemui detikcom di konternya beberapa waktu lalu.
Dari Warung Sembako ke Konter Strategis
Saat memulai usaha BRILink, Nono masih belum mempunyai konter sendiri dan masih menyatu dengan warung sembako miliknya. Lokasinya pun tak terlalu dekat dengan jalan raya. Warga yang melakukan transaksi di lokasi tersebut hanya tetangga yang dekat dengan rumah Nono. Jumlah transaksi saat itu belum mencapai 100.
"Paling banyak itu 30, 50," kata Nono.
Di bulan kedua usaha, Nono mendapatkan undangan gathering dari BRI untuk pembentukan paguyuban Agen BRILink Cikarang. Di momen itulah para Agen BRILink bertukar cerita mengenai cara untuk meningkatkan transaksi keuangan.
"Saya pelajari, alhamdulillah di bulan kelima, keenam transaksinya makin naik. Alhamdulillah di 1 tahun pertama itu udah hampir di 1.000 lebih ya, hampir 2.000 transaksi dalam 1 bulan," imbuh Nono.
Setelah transaksi mulai meningkat, Nono mulai berpikir untuk memindahkan konter BRILink ke titik yang dekat dengan jalan utama. Ia kemudian menyewa tempat yang dijadikan kios saat ini dengan biaya Rp 15 juta per tahun. Selain itu, ia juga sempat membuka satu cabang kios lagi di Cikarang. Namun konter BRILink itu hanya bertahan dua tahun lantaran ponakan Nono yang biasa menjaga konter tersebut sudah mempunyai pekerjaan lain.
"Saya belum mau kalau nyari karyawan, saya belum bisa mengecek bagaimana ini, belum," ujar Nono.
Tantangan Digitalisasi dan Persaingan
Seiring perkembangan teknologi, transaksi keuangan juga banyak dilakukan lewat HP. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Nono. Di samping itu, jumlah Agen BRILink di wilayahnya terus bertambah.
"Mungkin melihat potensi di sini banyak, jadinya makin banyak juga," ujar Nono.
Meskipun ada fluktuasi, Nono mengatakan jumlah transaksi di konternya tidak terlalu menurun. Jumlah transaksi saat ini masih mencapai lebih dari 1.000 per bulan. "Pelanggan yang lama masih banyak," tutur Nono.
Omzet Rp2 Miliar per Bulan
Dari jumlah transaksi tersebut, Nono bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 12 sampai Rp 15 juta per bulan. Sedangkan perputaran uang di konternya mencapai Rp 2 miliar lebih dalam sebulan.
"Soalnya kalau BRILink itu perputaran misalkan, sekarang ada yang transfer, transfer uang cash gitu. Misalkan Rp 5 juta, nggak selang berapa lama ada yang lagi narik lagi 5 juta, jadi perputaran seperti itu, balance," kata Nono.
Untuk menjaga kelancaran transaksi, Nono harus menyiapkan modal tunai sekitar Rp 50 juta. Selain itu, saldo di rekening juga perlu disiapkan lebih dari Rp 50 juta. Adapun transaksi yang paling sering dilakukan warga antara lain tarik tunai, transfer, pembayaran angsuran, pembayaran listrik hingga top-up e-wallet.
Mayoritas pelanggan yang melakukan transaksi di konternya merupakan para pekerja di kawasan industri sekitar Cikarang. Tak heran, aktivitas transaksi biasanya meningkat saat memasuki periode gajian. "Jadi kebanyakan yang pas gajian banyak yang tarik tunai. Seperti itu. Selain tarik tunai itu, dia transaksi mungkin ngirim kayak orang tuanya ke kampung, kayak ngirim saudaranya," kata Nono.
Dampak Ekonomi: Biaya Pendidikan hingga Kos 6 Pintu
Usaha BRILink yang telah dijalankan secara bertahun-tahun telah banyak membawa manfaat bagi Nono. Jika dulu usaha BRILink itu dijadikan sebagai sambilan, kini penghasilan utama keluarganya justru bersumber dari usaha tersebut.
"Dampak ekonominya yang saya rasakan bener-bener sangat membantu, dan juga buat masyarakat sekitar juga istilahnya banyak yang terbantu juga," kata Nono.
Menurut Nono, masyarakat juga merasakan dampak dari keberadaan BRILink ini. Bantuan-bantuan yang disalurkan pemerintah kepada masyarakat bisa dicarikan lebih dekat di konter BRILink. "Semacam kan kayak dari program-program BRI itu kan kayak semacam dari anak sekolah itu ada Kartu PIP, terus KIP gitu ya, bantuan-bantuan seperti itu, jadi dia masyarakat sini merasa terbantunya lebih dekat gitu, enggak harus datang ke kantor BRI ngantri lama," ujar Nono.
Selain itu, keuntungan dari usaha BRILink ini juga digunakan Nono untuk membiayai pendidikan anak hingga merenovasi rumah. "Dampak ekonominya sangat terasa. Memang nggak bisa dipungkiri emang ada itu," tuturnya.
Ia juga mampu membangun kos-kosan hasil dari keuntungan usaha BRILink. Saat ini ada enam kosan yang disewakan kepada para pekerja di sana dengan tarif Rp 500-Rp 600 ribu per bulan. "Alhamdulillah kosan saya walaupun nggak terlalu bagus, isi terus. Walaupun baru ada yang keluar langsung ada yang ngisi lagi, pada betah," tutur Nono.
Peran BRILink dalam Inklusi Keuangan
Sementara itu, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI di Cikarang, Dian Permana, menjelaskan kehadiran BRILink diharapkan dapat memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat. Melalui Agen BRILink, warga tidak perlu lagi datang langsung ke kantor bank untuk melakukan berbagai transaksi.
"Yang tadinya nasabah harus rela antre gitu buat datang ke bank, sekarang cukup hanya untuk ke agen BRILink aja, dan sekarang ini juga kan agen BRILink ini perpanjangan tangan dari BRI, di mana agen BRILink untuk saat ini sudah bisa melakukan pembayaran pinjaman, pembuatan rekening," ujar Dian.
Dian menyampaikan saat ini ada sekitar 650 Agen BRILink di Cikarang yang tersebar di 12 unit BRI. BRI menugaskan dua PPBK untuk mengelola agen-agen tersebut. "Dari dua ini masing-masing pegang enam unit kelolaan. Nah, Pak Nono ini ada di wilayah saya," ujar Dian.



